YOGYAKARTA, fornews.co–Lebih dari 120 ekor Tukik dilepas di Pantai Goa Cemara, Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, DIY, Ahad (5/6/2020).
Pelepasan Tukik tersebut untuk melestarikan satwa langka yang kini hampir punah.
Selain itu, pelepasan anak-anak Penyu untuk mengurangi ubur-ubur yang belakangan ini sering terlihat di sepanjang pantai Selatan.
Subagio, Ketua Kelompok Konservasi Penyu di Pantai Goa Cemara, mengatakan pelepasan Tukik itu sekaligus untuk mengatasi ubur-ubur.
“Penyu adalah pemakan ubur-ubur, sedangkan ubur-ubur memakan bibit ikan,” jelas Subagio, Ahad (5/7/2020) sore.
Bagio, panggilan akrabnya, dulu sering mendengar keluhan dari nelayan karena tangkapan ikan berkurang.

Sejak adanya Kelompok Konservasi Penyu Mino Raharjo, di Pantai Patehan atau Goa Cemara, nelayan dapat terbantu.
Selain sebagai petani, masyarakat Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, merupakan nelayan yang mengandalkan tangkapan ikan.
“Adanya pelepasan anak-anak penyu ini agar nelayan bisa medapatkan ikan berlimpah.” kata Subagio.

Wakil Bupati Kabupaten Bantul, Abdul Halim Muslih, mengimbau setiap orang dilarang melakukan penjarahan Penyu.
Penyu merupakan satwa langka yang harus dijaga kelestariannya.
“Penyu merupakan satwa langka yang harus dilindungi dan dikenalkan kepada anak-anak,” ucapnya, Ahad (5/7/2020) sore.
Ia berharap agar masyarakat dapat turut serta dalam pelestarian Penyu.

Wakil Bupati Bantul ltu juga mengatakan, para orang tua untuk mengajarkan kepada anak-anak–sejak dini–terhadap pelestarian Penyu.
“Sehingga, kelak dewasa anak-anak dapat menjaga satwa langka dari jenis lainnya, tidak hanya Penyu,” katanya.
Pelepasan Tukik yang diinsiasi oleh Kelompok Konservasi Penyu Mino Raharjo itu justru diikuti ratusan peserta yang semula hanya dibatasi sebanyak 60 orang.
Peserta pelepasan Tukik bahkan datang dari Kulon Progo, Sleman, Kota Yogyakarta dan sekitarnya.

Kini, di tempat konservasi yang diketuai oleh Bagio menyimpan ribuan telur Penyu yang siap ditetaskan.
Guna menjaga bakal Tukik, telur-telur Penyu itu disimpan selama 50 hari untuk menjaga kelembaban.
“Semoga tukik-tukik ini dapat segera besar dan hidup lestari di lautan,” pungkas Bagio. (adam)

















