Penulis A.S. Adam
SLEMAN memiliki banyak sumber mata air, salah satunya Umbul Pajangan. Mata air ini sebenarnya berada di Dusun Saren, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, DIY. Namun kebanyakan orang mengenal umbul ini dengan sebutan Umbul Pajangan.
Pada masa penjajahan wilayah Sleman termasuk daerah yang paling dikuasai Belanda. Tanah-tanah dan belantara hutan di Kecamatan Ngemplak dijadikan perkebunan tebu oleh penerus generasi VOC.
Takjauh dari sumber mata air terdapat kolam dan perumahan orang-orang Belanda. Diantaranya adalah rumah para mandor perkebunan tebu. Tebu-tebu yang sudah dipanen dikirim ke sejumlah pabrik gula di Yogyakarta dan Klaten.
Menurut beberapa narasumber mengatakan bahwa kolam di Selatan umbul itu sengaja dibangun oleh orang Belanda sebagai tempat pemandian. Ada pula yang menyebut sebagai sumber air untuk perkebunan tebu.
“Kolam itu peninggalan jaman penjajah, tahun berapa dibuat saya tidak tahu. Jadi itu adalah bangunan Belanda,” kata Poniman Sabar, 70 tahun, warga Pajangan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.
Namun Poniman takbanyak tahu asal-usul Umbul Pajangan. Ia hanya tahu sumber mata air di Saren itu dipergunakan untuk keperluan pertanian dan air bersih.
Kolam pemandian bangunan Belanda dengan luas sekitar 100m x 70m terlihat seperti tambak ikan, tidak mirip kolam renang, meski penahan air di sekeliling kolam terbuat dari dinding beton.
Status orang pribumi (Jawa) sebagai pemilik tanah dan sumber mata air dilarang mandi di kolam. Ada sanksi berat bagi pribumi yang melanggar larangan. Hanya orang Belanda yang boleh memanfaatkan mata air dan kolam tersebut.
“Saya tanyakan ke simbah-simbah (leluhur) pun tidak ada yang tahu asal-usul mata air itu,” katanya.
Poniman adalah salah satu yang tersisa dari sejawatnya yang masih hidup setelah kemerdekaan RI. Hingga sekarang masyarakat di dusunnya hanya percaya bahwa kolam tersebut dibangun oleh Belanda. Mereka tidak tahu pasti kapan kolam itu mulai dibuat.
Beberapa tahun setelah kemerdekaan mata air barulah dapat dirasakan oleh pribumi. Air dari Umbul Pajangan tidak lagi dikuasai orang Belanda. Anak-anak pribumi bersukaria di kolam buatan orang Belanda.
Menurut kesaksian Poniman, Umbul Pajangan dulunya tidak seperti itu. Di kanan-kiri umbul terdapat dinding tidak bersemen. Sedangkan di sebelah Timur umbul terdapat pohon ingas dan pohon kenari.
Di sebelah Utara umbul juga terdapat mata air kecil. Airnya jernih. Hampir setiap malam orang-orang kepercayaan datang melakukan tirakatan.
Sekitar tahun 60-an sulit ditemukan sumur di sekitar umbul. Kata Poniman, tidak adanya sumur di dusun di sekitar umbul karena dikawatirkan sumur tidak bertahan lama dan menimbulkan longsor.
Waktu itu belum ada buis beton, jadi bikin sumurnya hanya digali,” katanya.
Suatu ketika warga di dusun tempat Poniman tinggal pernah mencoba membuat sumur. Mereka menggali tanah hingga menemukan mata air baru. Namun lagi-lagi sumur rusak dan longsor meski di sekeliling lubang galian sudah diperkuat menggunakan batu jenis padas.
“Makanya air selalu mengambil di mata air kecil di sebelah utara umbul,” katanya.n
Jenis batu yang mudah remuk menyebabkan longsor pada dinding sumur. Meski begitu ada dua buah sumur di Pajangan yang terlebih awal dibuat oleh masyarakat sebagai sumber air bersih.

Umbul Saren Juga Disebut Umbul Pajangan
DARI beberapa saksi di Wedomartani, Ngemplak, Sleman, mata air ini bernama Umbul Saren meski lebih dikenal dengan sebutan Umbul Pajangan.
Dalam Bahasa Jawa “umbul” berarti mata air, sedangkan “saren” merupakan nama sebuah dusun. Dinamakan Umbul Saren karena mata air tersebut berada di Dusun Saren. Sekarang umbul ini menjadi salah satu ekowisata di Sleman.
Dusun Saren masuk wilayah Wedomartani, Ngemplak, Sleman, DIY, berada di Utara Dusun Pajangan. Kedua dusun tersebut hanya berbatas jalan raya.
Umbul Saren berkedalaman 2 meter lebih dalam dari sebelumnya. Ini karena pernah dilakukan penggalian di umbul tersebut. Semula Umbul Saren hanya memiliki kedalaman 1,5 meter.
Di kaki Gunung Merapi banyak terdapat sumber mata air. Salah satu air yang berlimpah inilah kini menjadi tempat wisata lokal.
Umbul Saren yang disebut Umbul Pajangan airnya dialirkan secara bergantian ke sejumlah dusun ke seluruh Wedomartani.
Meski Pemerintah Kabupaten Sleman tidak resmi menganggap Umbul Pajangan sebagai ekowisata, keberadaan mata air ini selalu ramai pengunjung.
Kebanyakan dari pengunjung adalah muda-mudi luar Jawa yang belajar di Yogyakarta. Mereka adalah mahasiswa dan pelajar. Namun sesekali terlihat satu keluarga menikmati segarnya mata air Umbul Pajangan.
Siapapun yang datang tidak dipungut tiket masuk. Gratis. Pengunjung cukup membayar uang parkir kendaraan. Kecuali masuk kolam terapi ikan, satu orang dikenai 3000 rupiah.
Kolam terapi yang digemari pengunjung. Kebanyakan dari mereka adalah keluarga dan anak-anak.
Biasanya tanggal merah ramai,” kata Danang, (33 tahun) warga Saren, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, salah satu pengelola Umbul Pajangan.
Danang bukanlah satu-satunya pengelola Umbul Saren, ada beberapa orang yang membantu pekerjaannya merawat dan mengurusi komplek mata air Saren. Sejak berhenti bekerja sebagai sekuriti, Danang lebih serius dengan pekerjaan barunya.
Salah satu hasil keseriusannya ikut mengelola kawasan mata air Saren adalah kolam terapi ikan. Air kolam tersebut diambil dari mata air yang mengalir.
Danang juga berencana membuat taman di sekitar Umbul Saren. Biaya yang cukup besar tidak membuatnya terburu-buru mewujudkannya.
Umbul Saren memang kerap disebut Umbul Pajang, tapi sebenarnya bernama Umbul Saren,” kata Danang.
Ditemui fornews.co, Danang bercerita pernah ada keributan atas hak kepemilikan Umbul Saren. Namun karena penolakan seluruh warga Wedomartani, proyek Umbul Saren berhenti, dan airnya kembali dibuka untuk pendduduk. (adam)
FORNEWS OFFICIAL
instagram:
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja

















