KAYUAGUNG, fornews.co – Puluhan warga dari Desa Arisan Buntal dan Desa Celikah mendatangi kantor Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten OKI, Senin (15/10). Mereka berkeluh kesah mengenai kondisi rumah dan lingkungan desa mereka yang rusak akibat dampak pembangunan jalan tol di sekitar desa mereka.
Salah seorang warga, Marzuki mengungkapkan, sejak beberapa bulan terakhir rumah milik orang tuanya terkena dampak dari pembangunan ini. Diakuinya, rumah tersebut kini rusak akibat tumpukan koral (stockpile) yang ada disekitar rumah tersebut.
“Di Desa Celikah, terdapat empat rumah yang rusak dan kecil kemungkinan untuk diperbaiki. Rumah itu rusak karena (stockpile) disitu tanahnya rawa, tanah tidak sesuai dengan batu yang berton-ton disana. Oleh karenanya terjadi pergeseran tanah sehingga berdampak pada rumah di sekitarnya,” kata Marzuki usai melakukan aksi damai di kantor Setda OKI.
Menurut Marzuki, masalah ini telah dilaporkan dan disampaikan kepada pihak Waskita Karya selaku kontraktor pembangunan jalan tol. “Sudah ada yang datang dan katanya tunggu. Tapi sampai saat ini belum ada penyelesaian, belum ada kabar lagi. Kami berharap ini ada penyelesaian secepatnya. Ada diberikan dispensasi katanya untuk membayar kontrakan Rp400 ribu per rumah, tapi ini saja tidak cukup,” ujarnya.
Warga lainnya, Samari mengungkapkan, dampak yang dirasakan dari pembangunan tol ini adalah kerusakan kebun milik sejumlah warga. Menurut Samari, di Desa Arisan Buntal mengalir anak sungai. Akan tetapi kini sungai tersebut ditutup sehingga mengakibatkan banjir.
“Akibatnya tanaman terendam sampai berbulan-bulan. Tanaman mana yang tahan terendam sampai berbulan-bulan? Jadi kami mohon untuk disampaikan kepada pihak Waskita agar ada solusi terkait masalah ini,” harapnya.
Tak hanya berdampak pada sektor perkebunan, lanjutnya, dampak dari penimbunan ini juga berimbas kepada peternakan ikan milik warga. Oleh sebab itu, warga mendesak Pemkab OKI segera mencarikan solusi untuk menyelesaikan persoalan ini. “Jika dalam waktu satu minggu tak ada tanda-tanda penyelesaian masalah ini, maka bisa jadi warga akan memblokir jalan dan menghentikan aktifitas pembangunan jalan tol,” tegas Samari.
Merespons aksi warga, Asisten I Setda OKI, H Antonius Leonardo menjelaskan, permasalahan seperti ini penyelesaiannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menurutnya, untuk menyelesaikan masalah ini juga harus menghadirkan pihak Waskita Karya selaku kontraktor pembangunan tol.
“Nanti kita undang pihak Waskita untuk mendengarkan juga bagaimana pendapat dari mereka. Mungkin minggu depan kita akan bertemu lagi seperti ini. Yang penting kita dengarkan dulu komitmen mereka seperti apa,” tutur Antonius.
Untuk saat ini, lanjut Antonius, masyarakat diharapkan dapat menahan diri dan sabar serta tidak melakukan hal-hal yang dapat memicu kegaduhan. Selain itu, dirinya juga mengharapkan agar pihak lain seperti LSM dan lainnya tidak memberikan dorongan kepada warga untuk melakukan hal-hal yang melanggar hukum.
“Silakan dibuatkan laporan tertulisnya, difoto (kondisi rumah dan lahan yang rusak) dan nanti bisa diperlihatkan saat bertemu dengan mereka (Waskita Karya) yang kita rencanakan minggu depan,” pungkasnya. (rif)

















