Penulis: A.S. Adam
PARANGTRITIS tidak asing bagi pelancong luar negeri dan domestik. Sebuah pantai berjarak 28 kilometer dari Kota Yogyakarta memakan waktu sekitar 45 menit ditempuh menggunakan kendaraan roda dua. Sepanjang perjalanan ke pantai selatan Parangtritis terdapat hamparan persawahan berlatarbelakang barisan gunung purba.
Namun yang menarik di tempat ini adalah olahan Jingking siap saji. Tidak semua orang pernah makan peyek Jingking. Rasanya mirip udang. Besarnya bisa seukuran jempol tangan orang dewasa. Dijual dalam bentuk matang siap santap. Ada yang sudah dibuat peyek, ada pula yang digoreng kering dan renyah, sebagai camilan. Orang Jogja menyebutnya Jingking atau Undur-undur. Karena jalannya yang seperti berposisi njengking atau mundur.

“Mau beli berapa pak,” tanya Pardi kepada pembeli.
Pardi Utomo, perempuan berusia 65 tahun, warga asli Pantai Depok, Parangtritis, Kretek, Bantul, sudah berjualan Jingking goreng sejak tahun 80-an. Sekarang, setelah gempa 2006 silam, Pardi berjualan di Pantai Depok, berjarak sekitar 3 km di sebelah barat Parangtritis. Tepat di depan monumental bertuliskan Pantai Depok, dia menggelar lapak Jingking. Sebelum berpindah ke Depok, di usia 25 tahun Pardi berjualan di Parangtritis.
“Sekarang sulit mendapatkan Jingking,” kata Pardi, Ahad siang.
Jingking mentah dipasok dari pantai di Kulonprogo, seperti Glagah dan Congot. Diakui Pardi, sekarang tidak mudah mendapatkan bahan baku Jingking di sepanjang Parangtritis hingga Depok. Selain tidak memiliki peralatan khusus menangkap Jingking, habitat Jingking di sepanjang Parangtritis sudah berpindah ke pantai yang jarang didatangi orang.
Di lapak Pardi, seplastik Jingking goreng setengah kilogram dibandrol 5.000-10.000 rupiah. Sedangkan peyek goreng dengan berbagai varian dijual mulai harga 3000-5000 rupiah. Ia juga melayani pembeli dalam jumlah besar.

Sandino (55 tahun) warga Mancingan Parangtritis Bantul Yogyakarta, pemilik kuda wisata pantai, membenarkan sulitnya menangkap Jingking.
“Tidak semudah dulu ketika Parangtritis masih sepi, tidak seramai sekarang,” katanya.
Binatang laut Jingking juga tidak bisa dijaring, lanjut Sandino, sebab Jingking termasuk binatang yang kecil. Harus menggunakan alat khusus untuk menangkapnya.
Menangkap Jingking dibutuhkan waktu yang tepat. Jingking banyak bermunculan di pasir pantai saat matahari terbit, atau ketika matahari terbenam. “Sekitar jam enam pagi atau menjelang jam enam sore.”
“Mata harus awas karena Jingking belari kencang,” ucap Sandino.
Jingking dapat secepat kilat bersembunyi di balik pasir. Jika tidak awas, tambah Sandino, kita gagal mendapatkannya.
Nama lain Jingking bernama Emerita sp secara umum berkerabat dengan udang, lobster, kepiting, dan teritip. Jingking punya kekhasan struktur tubuh yang berkarapaks dan memiliki dua antena mirip sisir melengkung ke kanan dan ke kiri. Kedua antena tersebut berfungsi untuk menangkap makanan seperti plankton dan detritus yang terbawa ombak laut ke pantai. Jingking akan keluar dari tempat persembunyiannya melompat ke pasir pantai, dan saat ombak surut ia kembali di persembunyiannya.
Secara umum Jingking berlimpah pada pertengahan musim kemarau. Di sepanjang pesisir pantai selatan Jogja, Jingking dapat bertelur sebanyak 1.410-11.983. Telurnya berwarna kekuning-kuningan oranye. Memiliki kandungan gizi, protein dan omega-3 yang cukup tinggi dibanding udang, lobster, dan jenis kepiting lainnya.
Jingking atau undur-undur adalah binatang superfamili Hippoidea. Di Indonesia bagian lain, di luar Yogyakarta, disebut ketam pasir atau ketam laut. Hidup di pantai terbuka berpasir hitam atau pasir besi. Biasanya dapat ditemukan di antara air pasang dan air surut. Jingking juga tersebar di California, bahkan di sepanjang pesisir laut Atlantik dan Pasifik hingga Amerika. Di Indonesia penyebaran Jingking masih belum diketahui.

















