YOGYAKARTA, fornews.co—Aktivitas Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah saat ini masih cukup tinggi.
Pekan ini Gunung Merapi mengalami 4 kali awan panas guguran ke arah Barat Daya dengan jarak luncur 2,5 kilometer.
Guguran lava teramati sebanyak 29 kali ke arah Tenggara dengan jarak luncur 1,2 kilometer.
Guguran lava kembali teramati pada jam-jam berikutnya sebanyak 145 kali ke arah Barat Daya dengan jarak luncur maksimal 2 kilometer.
Guguran lava juga terjadi sebanyak 4 kali ke arah Barat dengan jarak luncur 800 meter dan 1 kali ke Barat Laut dengan jarak luncur 500 meter.
Pada tanggal 25 Juli 2021 pukul 22.49 WIB terpantau titik api di lereng Barat Daya Gunung Merapi. Fenomena yang sama terlihat pada tanggal 26 Juli 2021.
Titik api tersebut merupakan kebakaran vegetasi yang dipicu oleh lontaran lava dari guguran lava pijar.
Musim kemarau dan tidak adanya hujan membuat vegetasi di lereng Merapi menjadi kering sehingga sangat mudah terbakar ketika tersulut api.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta melaporkan Merapi menunjukkan laju pemendekan jarak sebesar 11cm per hari.
Intensitas guguran lava bersamaan kegempaan Gunung Merapi pada pekan ini terbilang cukup tinggi. Deformasi G.
Guguran yang teramati pada sisi Barat berasal dari material lama Lava 1992 dan Lava 1998, demikian juga guguran yang mengarah ke Barat Laut berasal dari material lama Lava 1948.
Dari hasil pengambilan foto udara dengan drone yang dilakukan pada tanggal 28 Juli 2021 volume kubah Barat Daya sebesar 1.878.000 m3 dan volume kubah tengah sebesar 2.817.000 m3.
Analisis morfologi dari Stasiun Kamera di Deles, Balerante, Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tidak menunjukkan perubahan signifikan pada tinggi kubah tengah.
Analisis dari Stasiun Kamera Tunggularum di Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman dan Ngepos, Magelang, Jawa Tengah, menunjukkan sedikit perubahan morfologi pada kubah Barat Daya.
Sedangkan dari Stasiun Kamera Babadan menunjukkan sedikit perubahan morfologi pada Lava 1998.
BPPTKG juga melaporkan tidak adanya hujan, lahar, maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Meski begitu, BPPTKG menyebut aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi.
Hingga saat ini Gunung Merapi masih berpotensi bahaya dengan status Siaga (Level III).
Potensi bahaya saat ini, Sabtu (31/7/2021) berupa awan panas dan guguran lava pada sektor Barat Daya meliputi Kali Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Putih dan Gendol sejauh 5 kilometer dari puncak Merapi.
Bila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau hingga radius 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas dan kegiatan di kawasan rawan bencana (KRB) III di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi. (adam)

















