YOGYAKARTA, fornews.co—Bakda sholat Ashar aktivitas kembali bergeliat. Persiapan berbuka puasa mulai dilakukan. Alun-alun Kidul menjadi pilihan menunggu waktu berbuka puasa.
Jauh sebelum Alun-alun Kidul menjadi pusat keramaian, sebagian masyarakat Yogya beramai-ramai mengisi waktu sore di Alun-alun Utara.
Namun, setelah pagar terali besi panjang melingkar menutup Alun-alun Utara—terlarang untuk berbagai kegiatan dan aktivitas—tempat itu mulai sepi.
Kini Alun-alun Kidul bagaikan pasar sore yang ramai dikunjungi warga. Berbagai pedagang kaki lima tumpah di tempat ini.
Selain itu, Masangin yakni sebuah permainan masuk di antara dua pohon beringin ikon Alun-alun Kidul masih digemari pengunjung.
Sambil menunggu waktu bedug maghrib, pengunjung bermain masangin saling bergantian dengan pengunjung lainnya.

Ada pula permainan tradisional egrang yang cukup diminati warga dan wisatawan saat berlibur ke Yogya.
Egrang yakni alat permainan anak-anak terdiri dari dua buah tongkat yang diberi tumpuan sebagai tempat kaki. Egrang juga disebut Jangkungan, nama lain dari permainan ini.
Beberapa tempat yang banyak didatangi masyarakat di antaranya adalah kawasan Titik Nol Kilometer, Malioboro, Tugu dan Kotabaru.

Klithih
Alun-alun Kidul mulai ramai diperkirakan setelah banyak yang memanfaatkan sebagai tempat “klithih”.
Dahulu “klithih” berarti mengisi waktu malam dengan berbagai aktivitas positif seperti berdiskusi atau membincangkan hal-hal seputar isu terbaru di warung atau angkringan.
Kata “klithih” bisa juga berfungsi sebagai pengganti istilah mencari angin malam; jalan-jalan malam; atau mencari makan di luar rumah di waktu malam.

Pada awal tahun 2000-an Alun-alun Kidul diperkirakan telah berubah semakin ramai.
Lesehan-lesehan yang menyediakan menu makan malam berganti menjadi lapak-lapak jagung bakar.
Lapak-lapak itu berada di pojok di sisi Timur dan Selatan Alun-alun. Namun sekarang tidak ada ruang kosong di tempat ini. Lapak-lapak telah mengisi ruang-ruang kosong itu.
Para penjual wedang ronde juga berdatangan melengkapi suasana sore hingga malam sehingga semakin hangat.
Setiap akhir pekan tempat ini macet bagaikan malam pergantian tahun.
Melihat setiap malam ramai dikunjungi, warga sekitar memanfaatkannya sebagai sumber penghasilan.
Warga mulai membuka tempat-tempat parkir, angkringan dan warung-warung.
Sejak saat itulah setiap hari sejak sore hingga malam Alun-alun Kidul menjadi ramai.

“Datang ke sini (Alun-alun Kidul) sepekan bisa empat kali,” ujar salah seorang warga Yogya.
Di bulan puasa tahun ini bersama anak dan suaminya lebih sering ke Alun-alun Kidul menunggu waktu bedug maghrib.
Meski kadang mengisi waktu sore dengan berkeliling Kota Yogya, memutari kawasan Malioboro, menurut mereka Alun-alun Kidul tempat paling cocok untuk menunggu buka puasa.
Di Alun-alun Kidul mereka tidak perlu khawatir membiarkan anaknya bermain bebas karena masih dinilai aman dari kendaraan.
“Di sini anak-anak bebas bermain dan berlari, karena banyak rumput dan tanahnya pun tidak keras. Selain itu, jauh dari jalan kendaraan,” katanya.
Ramadan tahun ini pedagang kaki lima yang menyediakan menu buka puasa didominasi oleh minuman manis berbahan buah-buahan.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang mudah ditemui jajanan tradisional seperti kicak, wajik, cenil, lupis, lemet, atau jenang gempol yang bercita rasa lokal. (adam)

















