YOGYAKARTA, fornews.co–Seorang nenek berusia hampir seratus tahun tidak setuju setelah mengetahui kabar Alun-alun Utara (Alutara) bakal dipagar.
Prawirodiarjo, pemilik warung klontong di Jalan Godean Km.5, sudah lebih dari 55 tahun berjualan.
Suaminya, bernama Mulyadi, sudah lama meninggal. Ia hanya tinggal bersama beberapa anaknya.
“Mboten setuju menawi Alun-alun dipun tutup (tidak setuju jika Alun-alun ditutup),” ujarnya, Selasa.
Mbah Prawiro, sapaan akrab, menanyakan alasan mengapa Alutara harus dipagar.
Namun, jika pemagaran tersebut digunakan untuk kegiatan Kraton seperti grebeg tentu sudah menjadi wewenang Raja.
“Lha kersane ngarso dalem, menawi ditutup biasane niku wonten hal penting (Jika penutupan itu adalah kebijakan Raja biasanya ada hal-hal penting),” katanya.
Mbah Prawiro menilai keputusan Raja adalah mutlak.
Namun, Ia tidak peduli lagi dengan segala hal duniawi yang bisa menyebabkan manusia lupa dosa.
“Sakniki kulo namung neggo dipendem (sekarang saya hanya menunggu jatah dikubur),” ucapnya pasrah.
Di usianya yang tinggal menunggu mati, katanya, hanya bisa berharap segala dosanya diampuni Ilahi.
Menurut Mbah Prawiro, seorang Raja tetap akan bersikap adil terhadap rakyatnya meski dalam keadaan terjepit.
Jika ada Raja yang semena-mena terhadap rakyatnya, tidaklah pantas seorang Raja duduk di singgasananya.
Meski Mbah Prawiro enggak menyebut nama, ia mengaku punya saudara yang pernah menjadi prajurit lombok abang di masa Hamengku Buwono IX.
Di warung Mbah Prawiro hanya menyediakan kembang, kemenyan, cengkih, dan segala kebutuhan yang tidak dijual di warung pada umumnya.
“Terus gek pripun menawi Alun-alun ditutup, garebegan mosok dipindah (terus bagaimana jika Alun-alun ditutup, lantas garebegan mau dipindah kemana?),” pungkas Mbah Prawiro kepada fornews.co.
Pemagaran Alutara
Pemagaran Alun-alun Utara (Alutara) memunculkan berbagai presepsi dari masyarakat Yogyakarta.
Rencananya Alutara akan dikembalikan seperti masa pemerintahan Hamengku Buwono I.
“Tujuannya kembali ke yang dulu. Saat awal Alun-alun dipageri,” papar Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Hal tersebut justru membuat banyak pihak bertanya-tanya terhadap paparan Alutara.
Menanggapi hal tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan bahwa pemagaran besi tidak hanya terjadi kepada Alutara.
Sejumlah pintu masuk ke dalam benteng Kraton juga akan dipasang pagar besi. Alasannya, dulu semua Plengkung Kraton pernah terpasang pintu gerbang.
“Tidak hanya Alun-alun, tembok masuk Rotowijayan, ke utara ke kantor pos itu dulu ada pintu gerbang semua,” ungkapnya.
Meski wajah Alutara taksama persis seperti masa Hamengku Buwono I, pengembalian di masa HB I tetap akan dilakukan.
Sebelumnya sempat beredar Surat Sosialisasi bertandatangan Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura, GKR Condrokirono.
Dalam Surat edaran tersebut berisi undangan sosialisasi pembangunan pagar di Alun-Alun Utara yang diadakan di aula kantor kecamatan Kraton Senin (8/6/2020). (adam)

















