PALEMBANG, fornews.co – Keberhasilan atlet panjat tebing Indonesia asal Kabupaten Musi Banyuasin, Muhammad Hinayah, meraih medali emas Asian Games 2018, membuat gairah sport climbing kembali menggelora.
Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Sumsel Beni Hernedi mengatakan, pascagelaran Asian Games lalu, FPTI memiliki motivasi untuk memanfaatkan fasilitas yang ada di Jakabaring Sport City untuk menggelar berbagai event kejuaraan-kejuaraan nasional, internasional, bahkan dunia. Hal itu tentunya tidak lepas dari upaya FPTI Sumsel untuk mencetak Hinayah lainnya untuk melanjutkan prestasi panjat tebing.
“FPTI Sumsel juga telah menjalin kerja sama dengan Eiger, sehingga aktivitas sport climbing khususnya di Sumsel tidak pusing lagi karena di-support 100%,” ujar Beni pada press conference Sport Climbing Road to World Series di atrium Palembang Icon Mal, Senin (10/09) siang.
Menurut Beni, dengan kemampuan yang sudah ditunjukkan Hinayah di Asian Games lalu, maka untuk meningkatkannya dibutuhkan event yang mempertemukan Hinayah dengan atlet-atlet kaliber dunia.
“Tanggung jawab kami (FPTI) bagaimana caranya untuk mendukung Hinayah ikut world series yang bertujuan menaikkan rangking yang saat ini di 16 dunia,” kata Wakil Bupati Musi Banyuasin ini.
Beni melanjutkan, pekerjaan rumah setelah Hinayah sukses meraih prestasi di Asian Games lalu adalah mencetak atlet panjat tebing yang memiliki kemampuan dan prestasi yang setara bahkan melebihi atlet 22 tahun itu. Bahkan dalam program kerja FPTI Sumsel, kedepan akan dibentuk sekolah panjat tebing yang mendidik dan melatih atlet-atlet junior sebagai penerus para seniornya.
“Jadi bapak ibu yang anaknya di rumah suka manjat jendela atau lemari, ayo salurkan ke FPTI, siapa tahu bisa jadi atlet panjat tebing berprestasi,” seloroh Beni.
Sementara itu, atlet panjat tebing nasional Muhammad Hinayah mengaku sempat tidak percaya dengan perjalanan kariernya. Sebab pemuda asal Sekayu yang mulai mengenal panjat tebing di tahun 2004 ini awalnya hanya melihat para atlet Sumsel yang menjalani Pelatda PON.
“Ditawari gabung latihan ya saya ikut dan sejak itulah mulai tertarik. Menekuni panjat tebing, ikut kejuaraan, lalu tahun 2017 dipanggil masuk Pelatnas. Bahkan saat dipanggil (Pelatnas) itu saya tidak menyangka, sebab secara prestasi belum luar biasa seperti teman-teman yang lain seperti juara nasional bahkan dunia,” terang Hinayah.
Menurut Hinayah, awal masuk Pelatnas dirinya hanya menjadi sparing partner rekan-rekannya terdahulu. Tapi berkat kerja keras dan dukungan semua pihak, Hinayah bisa menembus tim inti dan bersaing untuk tim inti Asian Games.
“Medali (emas) Asian Games ini bukan yang terakhir. Justru ini awal prestasi saya yang lebih tinggi. Masih banyak waktu untuk mengejar prestasi dan impian saya bisa tampil di Olimpiade. Selain itu saya juga berharap bisa lebih sering ikut world cup series,” tukasnya.
Founder Eiger Mamay S Salim menambahkan, FPTI Sumsel harus menyambut “Hinayah Effect” yang saat ini melanda kaum milenial Palembang dan Sumsel. Sebab dibalik euforia Asian Games 2018 yang menorehkan prestasi membanggakan khususnya untuk sport climbing, diharapkan bisa memicu pengembangan cabor ini lebih baik lagi.
“Kami bekerjasama dengan FPTI Sumsel salah satunya untuk mengembangkan sport climbing di daerah. Bukan hanya prestasi namun kami juga fokus melakukan pembinaan. Karena atlet itu ada masanya sehingga harus terus dimunculkan atlet-atlet penerus,” katanya. (ije)
















