Penulis : Arafah Pramasto, S.Pd (Pemerhati Kesejarahan dan Anggota Studie Club Gerak Gerik Sejarah)
AKHIR tahun 2018 lalu, film Aquaman menjadi salah satu film impor terlaris di Indonesia. Film yang sebagian besar mengambil latar “Pulau yang Hilang” berperadaban sangat maju, yakni Atlantis, yang diyakini Plato dalam buku Kritias dan Timaeus itu diramu apik menjadi fiksi berteknologi tinggi. Tersajinya tema mengenai Atlantis dalam Aquaman sesungguhnya menambah popularitas hal ini bagi publik Indonesia.
Arysio Nunes dos Santos (w.2005), Profesor Teknik Nuklir di Universitas Federal Minas Gerais, Brazil, melalui bukunya Atlantis : The Lost Continent Finally Found (2005), mungkin merupakan yang pertama membantah berbagai teori tentang posisi Atlantis. Dia menyajikan teori bahwa “Pulau yang Hilang” itu berada di sekitar Indonesia, Thailand, Brunei, dan Malaysia. Teori itu juga didukung oleh pakar hidrologist Universitas Gadjah Mada, Dhani Irwanto, yang lebih spesifik menyebut eksistensi pulau itu tenggelam di laut Jawa dalam karyanya Atlantis the Lost City is in Java Sea (2015).
Tulisan ini tidak untuk menilai kesahihan ataupun pro-kontra soal keberadaan Atlantis di Indonesia. Perlu diketahui tema “Atlantis” bukan kajian “anyar” di Indonesia, utamanya dengan Pulau Jawa. Pengaitan kedua tempat itu mengajak kita lebih jauh “bersua” dengan tokoh yang memiliki perspektif unik soal kesejarahan, ia berasal dari sebuah gerakan yang menjadi singgahan pemikiran tokoh-tokoh pengagas kemerdekaan Indonesia.
Kolonisasi Atlantis
C.W. Leadbeater dalam buku The Occult History of Java menulis, bahwa di masa silam Jawa merupakan koloni Bangsa Atlantis. Mereka, kata Leadbeater, merupakan penjajah yang membawa serta “agama hitam sesat”. Salah satu rajanya, meski ia memiliki cinta yang besar terhadap tanah Jawa, ia benar-benar berpikir bahwa hanya dengan pengabdian berupa persembahan darah setiap hari (tapi darah manusia hanya digunakan seminggu sekali, kecuali dalam festival tertentu !), maka negerinya bisa diselamatkan dari kehancuran yang disebabkan oleh dewa-dewa pemarah dan haus darah, yang meluapkan kemarahan mereka dengan meletuskan gunung berapi.[1]
G.J.F. Biegman, inspektur departemen pengajaran Hindia Belanda dan penulis Enambelas Tjeritera pada Menjatakan Hikajat Tanah Hindia (1894), empat tahun lalu diterbitkan ulang dengan judul Hikayat Tanah Hindia (2014), yakni salah satu karya klasik terpenting yang mengupas sejarah silam Indonesia – dan mungkin yang paling pantas dijadikan bahan komparasi sekaligus komplemen atas tulisan Leadbeater.
Dalam buku itu, Biegman menuliskan bahwa “bangsa asing” yang pertama datang ke Hindia (Nusantara) adalah orang Hindu. Bagi Biegman, orang-orang Hindu (dari India) yang “memperhalus adat kasar” orang (asli) Hindia serta “menjadi guru” bagi mereka dalam menulis, bermain wayang dan gamelan, bersawah, membuat jalan, memahat batu serta membuat tembok.[2]
Pendapat kedua orang yang hidup berbeda zaman itu seolah saling berkaitan jika kita “memaksakan” sebuah sintesis dengan mengenyampingkan identitas bangsa asing pertama yang dimaksud masing-masing penulis itu. Tulisan Leadbeater soal “adat kejam” raja Atlantis yang melakukan pengorbanan darah setiap hari di Jawa tak ubahnya “adat kasar orang asli Hindia” yang kelak diperhalus dengan kedatangan orang Hindu, seperti keyakinan Biegman.
Lebih lanjut Leadbeater menyebut penguasa Atlantis di Jawa melakukan segenap usaha untuk “memantrai pulau Jawa” sehingga membuatnya berada di bawah kutukan : “…akibat dari tindakan sang raja mungkin masih bisa kita lihat baik secara eterikal maupun astral, dalam bentuk awan gelap besar yang menggantung rendah di atas pulau Jawa, tidak cukup nyata untuk bisa dilihat dengan mata orang biasa…”[3] Sangat sulit membuktikan tulisan Leadbeater apalagi melalui “mata orang biasa.”
Aji Saka sampai Borobudur
Meski demikian, ada kesamaan keduanya yang mengulas sosok legendaris Aji Saka. Bagi Leadbeater, Raja Scythia bernama Ranishka dari barat laut India untuk mengirim ekspedisi ke Jawa pada 78 M dibawah pimpinan Aji Saka atau “Sakaji”. Orang Jawa sangat menyegani Aji Saka, mereka mengaitkannya dengan pemusnahan kanibalisme, perkenalan hukum dan budaya Hindu, sistem kasta, vegetarianisme, epos Hindu dan aksara Jawa, yang sepertinya berasal (diadopsi) dari aksara Devnagari.[4]
Biegman menyebut Aji Saka sebagai seorang Hindu yang mampu membunuh raja “Mendang” Kamulan dengan tipu daya. Raja itu adalah raksasa yang biasa memakan pedagang yang masuk ke negerinya. Setelah menjadi raja, Aji Saka memerintah dengan baik. Selain mengajarkan tarikh Hindu dan huruf Jawa, ia juga memperbaiki adat rakyatnya.[5]
Setelah sosok Aji Saka dipercaya “memperadabkan” Jawa, keduanya sama-sama tak bisa lepas dari pesona Borobudur. Biegman menyebut bahwa ketika agama Buddha pertama kali dibawa ke Hindia, pernah ada yang mengira bahwa Buddha (Gautama) merupakan jelmaan Dewa Wisnu dalam agama Hindu. Kedua agama ini memiliki peninggalan fisik yang cukup banyak, seperti candi-candi dengan corak masing-masing. Salah satu candi Buddha yang paling masyhur menurut Biegman adalah Borobudur di Kedu.[6] Di sisi lain, Leadbeater memperkirakan bahwa sebagian anak buah Aji Saka yang berperan dalam mendirikan dua sekolah aliran Budha, Hinayana dan Mahayana.
Kekaguman Leadbeater pada Borobudur ditunjukkan dengan mengutip komentar Dr. N.J. Krom, seorang orientalis, epigrafis, arkeolog, peneliti sejarah dan budaya Indonesia, yang pernah menjabat kepala Jawatan Purbakala Hindia Belanda.[7] N.J. Krom meskipun seorang materialis, tulis Leadbeater, begitu terpengaruh oleh keindahan Borobudur sehingga ia mengatakan bahwa atmosfer yang dipancarkan oleh monumen ini sangat luar biasa, karena “inspirasi ilahiah”-lah yang telah menuntun tangan-tangan yang membuatnya.[8]
Leadbeater serta Teosofi Hindia Belanda
Siapakah sebenarnya Leadbeater ? Ia adalah tokoh gerakan Teosofi. Bernama asli Charles Webster Leadbeater pada 17 Februari 1847, ia sempat menjadi pendeta Kristen serta aktif dalam keanggotaan Liberal Catholic Church. Sesudah membaca buku Occult World (Dunia Gaib) karangan A.P. Sinnet, ia memutuskan untuk bergabung dengan Teosofi pada 1883.[9]
Leadbeater tercatat pernah mengunjungi pulau Jawa dan mendalami ajaran-ajaran kebatinan, seni, budaya, sekaligus mempropagandakan Teosofi. Selama dua bulan (23 Maret-24 Mei 1914), dirinya mengunjungi Batavia, Malang, Yogyakarta, dan Surakarta. Hasil kunjungannya itu ia tulis dalam sebuah buku berjudul The Occult History of Java (1951) yang diterjemahkan dan disebarluaskan oleh Pustaka Theosofi Jakarta dengan judul Sejarah Gaib Pulau Jawa (1979).[10]
Teosofi merupakan jenis pemikiran yang didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky dan H.S. Olcott di New York pada 1875. Gerakan ini bertujuan menghidupkan ajaran kuno seputar kearifan, kebatinan, alam gaib, serta mengakui kesamaan inti ajaran beragam agama. Cabang Teosofi ke-20 yang sah diakui, didirikan pada 15 April 1912 di Hindia Belanda dengan presidennya yakni Dirk van Hinloopen Labberton.[11]
Ada beberapa nama tokoh pergerakan nasional yang diyakini ikut bergabung di dalam gerakan Teosofi. Selain Douwes Dekker – meski masih diragukan – tersebut beberapa nama seperti Tjipto Mangoenskoesoemo, Gunawan Mangoenkoesoemo, H.Mutahar, Muhammad Yamin,dll. K.H. Agus Salim adalah lulusan sekolah Koning Willem III tempat Labberton mengajar bahasa Jawa juga bergabung. Agus Salim berkontribusi besar tatkala menerjemahkan buku A Textbook of Theosophy (1912) karangan C.W. Leadbeater. Hampir dua tahun Agus Salim aktif di himpunan Teosofi, pada awal 1918 dia memilih mundur.[12]
Atlantis dan Aji Saka Kita
Sedikit ulasan sederhana mengenai tokoh C.W. Leadbeater dengan gagasan yang mungkin agak sulit diterima karena minim validitas historis, tak lain ialah demi menambah khazanah pengetahuan kita. Mungkin kita dapat memasukkan kajian ini sebagai salah satu contoh “Sejarah-Semu” (Pseudo-History) karena masih bercampur dengan aspek mistik yang melenceng dari keilmiahan. Pada akhirnya, Leadbeater mengakui kebesaran peradaban Nusantara dengan melihat karya-karya peradaban fisik (nyata) seperti candi, sistem aksara, seni, dan lain-lain.
Lebih dari itu, gerakan Teosofi sebagai aliran yang diikuti Leadbeater ternyata ikut menjadi salah satu wadah bagi para Bapak Bangsa kita. Nampaknya dimensi Teosofi yang mencipta kosmis berpikir berlandaskan nilai universal dianggap berguna untuk merangkul semua anggota dengan latar belakang berbeda-beda, termasuk K.H. Agus Salim dari kalangan politisi Islam. Ini adalah suatu bukti betapa generasi emas pendiri bangsa kita tak segan untuk mempelajari beragam corak pemikiran maupun gerakan.
Meski Agus Salim dkk. yang pernah bergabung dengan gerakan Teosofi tak sempat meneliti “Di kedalaman lautan kita yang mana Atlantis tenggelam ?”, atau tentang “Bagaimana melepas mantra kutukan di Pulau Jawa ?.” Namun jangan lupa, mereka berhasil menggali kembali harga diri rakyat Nusantara yang lama terbelenggu rantai penjajahan Belanda : jauh lebih berharga ketimbang mencipta delusi “Atlantisme”. Bapak-bapak Bangsa kita adalah para “Aji Saka” yang memperkenalkan “A-Na-Ca-Ra-Ka Modern” bernama “INDONESIA” : rangkaian aksara yang sekarang perlu “dibaca” lagi !.*
Sumber :
- Leadbeater, C.W., Sejarah Gaib Tanah Jawa, Jakarta : Daras Books, 2015. Hlm. 16.
- Biegman,G.J.F., Hikayat Tanah Hindia : Sejarah Hindia Belanda dari Zaman Pra-Hindu hingga Abad ke-19, Yogyakarta : OCTOPUS Publishing House, 2014. Hlm. 4.
- Op. Cit.
- Ibid. Hlm. 23.
- Biegman,G.J.F., Hikayat Tanah Hindia : Sejarah Hindia Belanda dari Zaman Pra-Hindu hingga Abad ke-19, Yogyakarta : OCTOPUS Publishing House, 2014. Hlm. 11.
- Ibid. Hlm. 8.
- Simanjuntak, Truman, dkk. (Ed), Archeology, Indonesian Perspective : R.P. Soejono Festchrift, Jakarta : LIPI Press, 2006. Hlm. 5.
- Leadbeater, C.W., Sejarah Gaib Tanah Jawa, Jakarta : Daras Books, 2015. Hlm. 60.
- Artawijaya, Gerakan Theosofi di Indonesia, Jakarta : Al-Kautsar, 2010. Hlm. 34.
- Ibid. Hlm. 35.
- Tempo, Douwes Dekker : Sang Inspirator Revolusi, Jakarta : KPG, 2012. Hlm. 39.
- Tempo, Agus Salim : Diplomat Jenaka Penopang Republik , Jakarta : KPG,2013. Hlm. 89.

















