PALEMBANG, fornews.co – Beraktivitas di luar ruangan membuat atlet dayung rentan mengalami gangguan fisik. Sehingga Asian Rowing Federation (ARF) meminta tim dokter dan medis yang bertugas bersiap dan bergerak cepat jika terjadi kondisi darurat.
ARF Chair of Sport Medicine Committee, Hiura Mikio menerangkan, dayung merupakan olahraga yang mendekati ekstrem. Sebab para atlet mengerahkan tenaga habis-habisan untuk mendayung di udara terbuka di bawah terpaan matahari.
“Kondisi ini sangat menguras endurance (daya tahan) para atlet. Tentu ini sangat berisiko. Ditambah lagi temperatur panas selama pertandingan patut diwaspadai menambah beban para atlet,” terang Hiura pada press conference di venue Jakabaring Rowing and Canoeing Regatta Course, Palembang, Sabtu (18/08).
Dikatakan Hiura, tim medis harus paham dan jeli melihat tanda-tanda atlet yang kelelahan. Apabila atlet mengalami kram, sakit kepala, lelah luar biasa, dan kehausan yang tidak biasa, maka tim medis harus segera melakukan evakuasi untuk mendapat perawatan pertama.
“Kalau sekarang belum ada yang alami kondisi ekstrem, karena masih tahap latihan. Tapi nanti kalau sudah masuk hari pertandingan, berdasarkan pengalaman akan ada lima sampai enam atlet yang pingsan per hari karena mereka memporsir tenaganya untuk meraih hasil terbaik di tengah ruang terbuka yang panas. Usai bertanding para atlet harus segera istirahat untuk mengembalikan kondisinya,” kata dokter asal Jepang ini.
Hiura pun menjelaskan pada Asian Games 2018 ini, cabor dayung menggunakan alat Wet Bulb Globe Temperature (WBGT). Alat ini merupakan teknologi mutakhir dan sangat membantu untuk mengukur kelembaban, arah angin, temperatur dan lain sebagainya.
“Pastinya alat ini sangat membantu penyelenggaraan Asian Games disini. Sebab kalau temperatur terlalu panas pertandingan bisa ditunda karena berisiko untuk kondisi atlet,” tukasnya. (ije)

















