PALEMBANG, fornews.co – Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Sumatra Selatan dan Bangka Belitung terus berupaya menekan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang masih berada di atas ambang batas yang ditetapkan.
“NPL BPR ini sangat tinggi. Rata-rata di atas 5%. Tapi kondisi ini sudah jauh turun dari tahun kemarin yang mencapai 10%,” ujar Sekretaris DPD Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Sumsel Babel, Muhammad Riza Pahlevy, Jumat (27/07).
Menurut Riza, penyebab tingginya NPL di BPR dikarenakan banyak faktor. Salah satunya adalah dalam lima tahun terakhir industri BPR banyak menyalurkan pembiayaan ke sektor perkebunan khususnya karet. Namun harga karet yang tak menentu berimbas pada NPL.
“Tapi sekarang segmentasi pembiayaan BPR berubah. BPR tidak lagi memprioritaskan modal kerja, akan tetapi sekarang hingga 60% pembiayaan berlaih ke sektor konsumtif,” tutur Direktur Utama BPR Syariah Al Falah ini.
Dikatakan Riza, target NPL BPR kedepan harus di bawah 5%. Meski berat, namun pelaku industri BPR tetap optimis. “Kalaupun tidak bisa ya minimal NPL menyentuh 5%.
Menurut Riza, salah satu cara yang dilakukan BPR untuk menekan NPL adalah mengalihkan pembiayaan ke sektor konsumtif terutama bagi pegawai. Sementara pembiayaan modal kerja, industri dan perdagangan, perkebunan mulai dikurangi porsinya karena sangat berisiko.
“OJK awalnya kurang setuju dengan langkah BPR ini. Tapi melihat kinerja positif BPR, OJK pun menyetujui,” tukasnya. (ije)

















