
RAMADHAN moment sangat dinanti-nanti bagi umat Islam dunia. Berbagai persiapan penyambulan bulan suci ini dilakukan dengan gegap gempita. Umat Islam sendiri menyakini, bulan Ramadhan satu dari 12 bulan yang memiliki keistimewaan luar biasa. Semua ibadah akan dilipat gandakan di bulan ini.
Untuk menjaga keistimewaan bulan dimana diturunkannya Alquran ini, secara kasat mata dapat dilihat dari penampilan umat Islam, lebih sering mengenakan atribut khas keislaman, seperti baju kokoh dan songkok atau peci atau kopiah (penutup kepala dikala shalat atau acara kegamaan bagi umat Islam).
Suasana ini, membawa berkah bagi Ahmad Eeng (33) warga pendatang di Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), salah satu pedagang songkok/peci/kopiah yang dijajakan dari kantor ke kantor pemerintahan. Berbagai bentuk dan corak peci ditawarkan mulai dari harha Rp10.000 hingga Rp50.000 persatuannya. Memang tidak mahal, dan ini membuatnya dapat melakukan kopiahnya hingga 20 perharinya. Itu minimal.
Di hari-hari biasa, dirinya bekerja menjual jam dan servis itu juga dilakukan dengan berkeliling (tidak menetap), karena modal yang dimiliki tidak memungkinkan dirinya untuk menyewa atau membuat ruko. Tas ransel hitam selalu menemaninya untuk membawa barang dagangannya yang memuat hingga puluhan bahkan ratusan peci.
Bapak dua anak ini, memang cukup familiar di kalangan pejabat dan staf pemerintahan, maupun kawan-kawan jurnalis. Tidak jarang kalau jam tangan rusak atau baterai habis, menggunakan jasanya. Tapi di bulan Ramadhan ini, sementata dirinya tidak menawarkan jasa perbaikan jam. Lebih fokus untuk berdagang songkok/peci/kopiah.
“Alhamdulillah, banyak yang beli. Lumayan untuk penghasilan menjelang lebarang,” tuturnya, saat dijumpai saat menawarkan barang dagangannya di salah satu kantor pemerintahan di OKU, Rabu (31/05).
Dalam berniaga, dirinya juga sangat menghargai pembeli. Bahkan, dirinya tidak segan-segan untuk menerima kembali barang yang sudah dibeli atau sekedar ditukar. Apalagi sekedar untuk mencoba. Kepiawaiannya dalam memasarkan dagangannya, memang perlu diakui. Pujian tampan dan pantas, selalu dilontarkan kepada konsumennya. Sesekali, Eeng juga memberi masukan akan warna kesukaan Rasulullah SWT. Bahkan bahan dan jenis yang sama juga diperdagangnya di Mekkah.
“Jualan itu memang banyak resikonya. Adakalanya orang berubah pikiran dan menukar walau sudah dibeli. Ada juga yang hanya mencoba. Ya tidak masalah, kita harus layani. Rezeki itu Allah yang beri. Bisa saja, dari mencoba jadi membeli,” ucapnya seraya menawarkan pecinya.
Bagi putra asli Pedamaran, Ogan Komering Ilir (OKI), ini keuntungan akan didapat jika konsumennya senang dengan pelayanan yang diberikan. Eeng memang selalu ramah bukan hanya terhadap orang lebih tua atau sebayanya. Dengan anak jauh usia di bawahnya pun diperlakukan sama. Penulis bisa katakan ini, karena lumayan sering bertemu ketika liputan di Kantor DPRD OKU, atau kantor-kantor instansi pemerintah.
Dalam prinsip bisnis Eeng, meski tidak menjual suatu produk barang. Namun, bilamana ada yang memesan kepadanya, cukup bilang atau langsung sekaligus uang, maka akan diusahakannya walau harus memperolehnya dari luar daerah. Hal ini, juga menjadi satu peluang bisnis baginya mengambil keuntungan jasa dari si pemesan.
“Tapi, itu juga kalau bisa saya usahakan. Kalau tidak, saya juga tidak mau menjanjikan. Karena bagi saya, kepercayaan orang itulah modal saya berdagang,” tutupnya.
Mengutip dari Wikipedia, songkok yang disebut juga sebagai peci atau kopiah sejenis topi tradisional bagi orang Melayu. Di Indonesia, songkok yang juga dikenal dengan nama peci ini kemudian menjadi bagian dari pakaian nasional, dan dipakai oleh orang Islam. Songkok juga dipakai oleh tentara juga polisi Malaysia, dan Brunei, pada upacara-upacara tertentu. Penutup kepala ini merupakan variasi dari fes atau tharbusy yang berasal dari Maroko.
Songkok populer bagi masyarakat Melayu di Malaysia, Singapura, Indonesia dan selatan Thailand. Perlengkapan ini dikatakan berasal dari pakaian yang dipakai di Ottoman Turki. Songkok menjadi popular di kalangan India Muslim, dan menurut pakar kemudiannya berangsur menjadi songkok di dunia Melayu. Dalam kesusteraan Melayu, songkok telah disebut dalam Syair Siti Zubaidah (1840) “…berbaju putih bersongkok merah….”
Bagi kalangan orang Islam di Nusantara, songkok menjadi pemakaian kepala yang resmi ketika menghadiri upacara-upacara resmi seperti upacara perkawinan, salat Jumat, upacara keagamaan dan sewaktu menyambut Idul Fitri dan Idul Adha. Songkok juga dipakai sebagai pelengkap baju adat Melayu yang dipakai untuk menghadiri pertemuan-pertemuan tertentu. (ibr)

















