JAKARTA, fornews.co – Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan, berdasarkan sidang isbad yang dilakukan Kamis (14/06) petang, menetapkan 1 Syawal 1439 Hijriyah jatuh pada hari Jumat 15 Juni 2018.
“Alhamdulillah, hari ini kita telah menyelesaikan sidand isbad untuk menetapkan 1 Syawal 1439 Hijriyah yang jatuh besok (Jumat),” ujarnya pada konferensi pers di Kantor Kementerian Agama, Kamis (14/06).
Menteri Agama menjelaskan, sidang isbad diawali dengan pemaparan yang disampaikan Tim Falakiah terkait posisi hilal di seluruh tanah air. Bahkan diberbagai wilayah di negara di dunia. Posisi hilal antara 4 derajat enam menit sampai dengan tujuh derajat.
Sambungnya, dalam pemantauan hilal, dilakukan tidak kurang di 97 titik di seluruh tanah air. Jawa Timur terbanyak yakni di 27 titik. Aceh 7 titik, kemudian di Kalimantan dan seterusnya atau setidaknya dari 34 provinsi ada satu titik.
“Sampai dengan sidang isbad dibuka. Kami menerima 12 kesaksian, antara lain dari Manado, Maluku, Gresik, Jogjakarta dan Jakarta, dannlainnya menyatakan di bawah sumpah bahwa telah melihat hilal,” ucapnya.
Sehubungan dengan ini sambungnya, atas nama Kementerian Agama ia mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri kepada umat muslim. “Semoga momentum ini mempererat dan memperkukuh kerukunan antar umat islam dan sesama,” harapnya.
Ketua Umum MUI KH Maruf Amin mengajak untuk menjadikan Hari Raya ini sebagai momenyum memepererat silaturahmi. Karena hari raya ini penuh kasih sayang dan meyambung silaturahim, baik sesama muslim atau sesama antar bangsa.
“Mari memghilangkan kesalahpahaman dan membangun saling pengertian sehingga tidak ada kegaduhan-kegaduhan di negeri ini,” imbaunya. (ibr)
Larangan Khotib Berpolitik Praktis
KH Maruf Amin mengimbau kepada seluruh khatib Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah, untuk menghindari penyampaikan materi khutbahnya dengan politik praktis.
“Khutbahnya jangan membawa suasana politik praktis. sebab di dalam jamaah warna politiknya bermacam-macam. Kalau tidak itu bisa merusak suasana kerukunan,” ungkapnya.
Ia juga mewanti-wanti, materi khutbah hendaknya yang menyejukkan untuk menjaga keberagaaman beragama dan bebangsa. “Jangan sampai isi khutbah memprofokasi. Mari kita mejaga suasana kerukunan agar lebih baik,” tukasnya. (ibr)

















