PALEMBANG, Fornews.co – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel mencatat hingga Juli 2020 populasi gajah di Sumsel yakni tinggal 200 ekor. Populasi tersebut terancam berkurang lantaran alih fungsi hutan dan lahan serta pembalakan liar.
Demikian disampaikan oleh Kepala BKSDA Sumsel, Genman Suhefti Hasibuan, Senin (06/07).
Genman mengatakan berdasarkan catatan pihaknya saat ini total gajah di Sumsel baik yang jinak maupun yang liar hanya tersisa sekitar 200 ekor. Dimana, paling banyak berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dan Banyuasin, Sumsel.
Menurutnya, jumlah tersebut dapat saja bertambah karena hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan adanya gajah yang mati. Hanya saja, saat ini yang dikhawatirkan yakni pembalakan liar dan alih fungsi hutan dan lahan.
“Alih fungsi hutan dan lahan serta pembalakan liar ini dapat menimbulkan konflik antar manusia dan gajah,” katanya.
Konflik ini terjadi dikarenakan habitat gajah semakin berkurang sehingga mereka pun terdesak dan keluar dari habitatnya. Konflik ini terjadi sebanyak empat kali sepanjang tahun 2020. Seperti di Kabupaten OKI dan Muratara di Sumsel.
Sedangkan bencana yang terjadi seperti Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), menurutnya tidak berpengaruh terhadap populasi gajah. Dikarenakan, sifat gajah selalu mencari posisi yang lebih aman jika terjadi tekanan.
“Dari laporan kami itu tidak ada gajah yang mati akibat terdampak Karhutla,” tutupnya. (lim)

















