
SANDANG Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Baturaja Barat, Ogan Komering Ulu (OKU), Ajun Komisaris Polisi (AKP) Yuliko Saputra SH, bukan hanya bergelut dengan pelaku kejahatan guna menciptakan rasa aman bagi warga di Bumi Sebimbing Sekundang.
Melihat potensi pertanian yang tidak tergarap maksimal, bapak dua anak kelahiran 26 Juli 42 tahun silam ini, tergerak untuk mengubah mainset petani yang mengandalkan getah karet untuk mencukupi kehidupan mereka sehari-hari beralih ketanaman jagung. Dengan berbekal pengetahuan dari buku dan internet, Yuliko akhirnya memberanikan diri untuk mengajak masyarakat diwilayah hukum Polsek Baturaja Barat untuk menggeluti tanaman yang diperuntukan pakan ternak tersebut.
“Awalnya saya mendapat kesulitan pertama kali mengajak warga untuk menanam jagung. Hanya sebahagian kecil warga yang merespon keinginan saya,” tuturnya kepada fornews.co, Senin (29/05).
Lulusan Bintara Brigadir Mobil (Brimob) pada 1997 ini, terbesit pemikiran untuk mengubah kecamatan ini menjadi sentral jagung bermula dari banyaknya lahan tidur yang tidak produktif, atau lahan yang hanya ditumbuhi rumput liar saat melakukan patroli. Dari situ muncul pertanyaan dan tekat, kenapa lahan-lahan tidur ini tidak dimanfaatkan saja untuk ditanami jagung.
Tentu memulai bukan hal mudah. Bahkan Yuliko, di sela-sela tugas sebagai anggota Polri, tidak segan terjun langsung ikut menanam jangung di lahan warga yang disewanya. Berkecimpung langsung, hal ini justru memudahkan dirinya bersosialisasi dengan masyarakat, dan memaksimalkan menjaga Kamtibmas tentunya.
“Mungkin orang melihatnya terbagi-bagi konsentrasi saya sebagai anggota Polri (abdi negara), dengan bertani. Padahal tidak. Karena, justru saya berbaur dan langsung berada di tengah-tengah masyarakat. Justru, dengan begini saya bisa dengan mudah memberi pemahaman kepada masyarakat pentingnya menjaga Kamtibmas, sekaligus bertani,” ucap lulusan Secapa (Sekolah Calon Perwira) 2009.
Diakui Yuliko, awalnya tawaran/ajakan kepada warga untuk bertani jagung tidak langsung mendapat respon. Dengan hasil yang diperoleh, perlahan warga tertarik dan mengikuti jejaknya bertani jagung. Kegigihannya akhirnya membuahkan hasil. Warga yang mengikuti terobosan bertani jagung, mulai merasakan secara ekonomi. Yang tadinya perdua minggu mengandalkan hasil getah karet Rp1 juta hingga Rp2 juta. Kini warga dalam kurun waktu tiga bulan bisa menghasilkan puluhan juta.
“Memang, masyarakat butuh pembuktian. Bisa dilihat sekarang, warga yang mengetahui akhirnya mulai menanam jagung. Kawasan cor beton, sudah banyak tanaman jagung serta kawasan lainnya Kecamatan Baturaja Barat,” bebernya.
Yuliko berharap, jika ekonomi para petani dan warga sudah baik, tidak akan ada tindak kejahatan di wilayah hukumnya. Lapangan pekerjaan akan terbentuk dengan sendirinya di kawasan ini. Setidaknya banyak hal positif yang akan didapat dari bertanam jagung, terlebih lagi Presiden telah mengeluarkan peraturannya dengan menyetabilkan harga jangung diangka Rp2.800 perkilogramnya bisa naik tapi tidak bisa turun.
“Bisa dibayangkan dalam satu hektar petani dapat menghasilkan jagung sebanyak 7-8 ton. Kalikan saja, kurangi pengeluaran untuk bibit dan yang lain-lain petani masih mengantongi uang puluhan juta per panen,” katanya.
Ternyata, dalam konsep cocok tanam yang dilakukan, Yuliko, menerapkan pembelajaran tentang antisipasi bahaya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kepada masyarakat yang akan membuka lahannya. Dimana dulu masyarakat tidak lagi memperkirakan dampak pembukaan lahan dengan membakar semak belukar sehingga sering terjadi kebakaran lahan.
“Tapi kali ini, masyarakat sudah kita bekali pengetahuan tata cara pembukaan lahan dengan cara dibakar, namun api tidak menjalar dan tidak menjadi titik hotspot yang membahayakan,” tandasnya.(bagus mihargo)

















