JAKARTA, fornews.co – Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex berkesempatan memaparkan keunggulan inovasi aspal karet di Muba pada Rapat Persiapan Pengkajian Daerah (Kajida) ke Sumatra Selatan Tentang Revitalisasi Perkebunan Karet dalam rangka Penguatan Ekonomi Daerah di Ruang Rapat Kedeputian Pengembangan Dewan Ketahanan Nasional, Jakarta Pusat, Senin (25/1/2021).
“Di Sumsel khususnya di Muba ini penghasil karet terbesar dan sudah terbukti nyata berhasil menguatkan perekonomian daerah di Muba yang dominan merupakan petani karet. Nah, ke depan imbas dari inovasi hilirisasi yang dilakukan Bupati Muba Dodi Reza tidak hanya dirasakan di Muba, ke depan harus dirasakan seluruh petani karet di Sumsel bahkan Indonesia,” ujar Deputi Pengembangan Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas), Marsda TNI Sungkono.
Sungkono menilai, Kabupaten Muba dinilai sangat tepat untuk menjadi pilot project dan leader dalam implementasi penguatan ekonomi daerah di sektor perkebunan karet.
“Muba sudah mengimplementasikan hilirisasi berupa inovasi pembangunan infrastruktur jalan yang berbahan baku karet, dan saat ini juga sudah memiliki pabrik aspal karet sendiri yang telah operasional,” katanya.
Inovasi hilirisasi karet menjadi campuran aspal di Muba ini merupakan terobosan yang sangat luar biasa dan menjadi sorotan Presiden RI Joko Widodo.
“Kebijakan hilirisasi karet yang sudah dijalankan di Muba ini riil menjadi jalan keluar keterpurukan harga karet yang selama ini menyentuh angka yang tidak wajar. Selanjutnya akan disusun rekomendasi sebagai bahan masukan kepada Presiden selaku Ketua Dewan Ketahanan Nasional untuk menentukan kebijakan lebih lanjut,” tuturnya.
Pembantu Deputi Urusan Ekonomi Setjen Wantannas, Brigjen Pol M Nazli mengatakan, sangat mengapresiasi inovasi hilirisasi karet di Muba yang sudah berjalan saat ini.
“Ini sangat tepat menjadi percontohan dalam upaya menguatkan perekonomian di sektor perkebunan karet, tentu harus disupport,” ucapnya.
Apalagi Presiden Joko Widodo masih sangat gencar dan masif dalam meningkatkan kualitas serta kuantitas pembangunan infrastruktur terutama jalan sampai ke daerah pelosok.
“Dan inovasi hilirisasi aspal karet adalah jawaban untuk menguatkan perekonomian di sektor perkebunan karet, dan kami yakin serapan karet petani lokal dapat terserap dengan maksimal serta harga karet dapat stabil dan dirasakan petani rakyat,” ujar Nazli yang juga Ketua Kajida.
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Aziz Pane dan Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardi Soedargo mengungkapkan, upaya hilirisasi karet di Muba yang telah berjalan saat ini merupakan langkah konkret menggairahkan harga karet di kalangan petani rakyat.
“Kami berharap inisiasi inovasi hilirisasi karet di Muba ini tidak hanya dirasakan petani dan para pemangku kepentingan di Muba dan Sumsel saja, namun juga dirasakan di skala nasional, juga dapat meningkatkan produksi karet lateks di Indonesia,” tuturnya.
Bupati Muba Dodi Reza Alex memaparkan, banyak upaya yang sudah dilakukan Pemkab Muba dalam upaya menstabilkan harga karet di Muba yang selaras dengan gencarnya hilirisasi karet di Muba, di antaranya peningkatan kapasitas dan produktivitas pekebun yakni dengan penggunaan bibit unggul, pupuk berimbang, sekolah lapangan petani karet, serta pelatihan dan pendampingan petani implementasi Good Agricultural Practices (GAP).
“Kemudian pembentukan dan membenahi kelembagaan petani karet, pembentukan kelembagaan petani karet melalui unit pengolahan dan pemasaran bahan olah karet (UPPB) berdasarkan Perbup nomor 324/2015,” paparnya.
Dodi menerangkan, alasan di balik pendirian pabrik aspal karet Musi Banyuasin yakni bahan baku melimpah dan dekat bahan baku, posisi strategis Muba memudahkan distribusi aspal karet, dan posisi Muba dilalui jalan nasional dan jalan penghubung kabupaten lainnya memerlukan aspal untuk pemeliharaan.
“Lalu, dukungan teknologi produksi aspal karet dari Puslit Karet Bogor dan PT Jaya Trade Indonesia, tersedianya captive market dari APBN dan APBD, dan upaya Pemerintah merubah paradigma
produksi pada tataran petani,” katanya.
Pengembangan sektor hilir komoditas perkebunan di Muba, lanjut Dodi, diperkuat lagi dengan
pengembangan infrastruktur melalui optimalisasi ruas tol Betung (Sp. Sekayu)-Tempino-Jambi yang melintasi Kabupaten Musi Banyuasin, optimalisasi ruas tol Betung (Sp. Sekayu)-Tempino-Jambi memperkuat konektivitas pada ruas jalan dalam Kabupaten Musi Banyuasin, memacu Pemerintah Daerah memanfaatkan sebesar-besarnya inovasi aspal karet lateks sebagai bahan baku
konstruksi jalan dengan alokasi anggaran APBD sebesar Rp100 miliar per tahun.
“Dampak implementasi yang dirasakan yakni peningkatan pendapatan petani dengan penjualan harga bokar melalui sistem lelang UPPB mencapai Rp10.000-Rp.11.000/kg dan peningkatan
harga dengan diversifikasi menjadi lateks pekat yang sudah dicentrifuge mencapai Rp19.000-Rp21.000/kg. Mengubah kebiasaan petani karet untuk memproduksi karet bersih dan mengubah petani dari on-farm menjadi off-farm dengan kemampuan untuk mengolah dan menjual sendiri produksinya,” ujar Dodi.
Dalam kesempatan tersebut, Dodi memberikan tiga rekomendasi yakni diperlukan payung hukum dalam pengggunaan aspal karet untuk pembangunan jalan yang berlaku secara nasional, peremajaan karet rakyat, dan industri berbahan baku lateks pekat agar mengutamakan lateks lokal.
“Yakinlah, dengan realisasi hilirisasi karet yang kami lakukan ini ke depan kita tidak lagi bergantung dengan harga internasional, serapan karet lokal tetap stabil, dan ini juga menjawab bagian dari nawacita Presiden RI Joko Widodo,” pungkasnya. (ije)

















