JAKARTA, fornews.co — Narasi tentang asal-usul dan luka sejarah kembali menembus panggung dunia. Novel “Mountains More Ancient” karya Isna Marifa masuk daftar pendek Chommanard International Women’s Literary Award 2026 di Bangkok, Thailand.
Isna Marifa mengangkat kembali cerita tentang pemindahan paksa dan jejak diaspora yang kerap luput dari ingatan publik.
Penghargaan tersebut dikenal memberi ruang bagi suara penulis perempuan dari kawasan Asia, termasuk Asia Tenggara, Tiongkok, Hong Kong, dan Taiwan.

Tahun ini, karya Isna berdiri sejajar dengan penulis lain yang dinilai menghadirkan kekuatan artistik dan relevansi sosial lintas batas.
“Pengakuan ini seperti membuka pintu yang selama ini terasa jauh. Saya tidak menyangka kisah ini bisa menjangkau pembaca di luar Indonesia,” kata Isna Marifa.
Isna menambahkan, cerita yang ditulisnya berangkat dari kegelisahan pribadi atas sejarah yang jarang dibicarakan.
“Ada bagian dari masa lalu kita yang belum cukup diceritakan, dan sastra memberi ruang untuk itu.”
Novel ini mengikuti perjalanan Wulan, anak berusia sembilan tahun yang dipaksa meninggalkan tanah kelahirannya menuju Cape Colony pada abad ke-18.
Dalam pengasingan, identitas menjadi sesuatu yang terus dinegosiasikan antara ingatan, keyakinan, dan kebutuhan untuk bertahan hidup dalam komunitas baru yang kelak dikenal sebagai Cape Malay.
Masuknya karya ini ke daftar pendek memperkuat posisi sastra Indonesia di forum internasional, terutama dalam mengangkat fiksi sejarah yang berakar pada pengalaman kolonial.
Sebelumnya, Ratih Kumala meraih penghargaan serupa lewat novelnya *Gadis Kretek*, membuka jalan bagi karya-karya lain untuk mendapat perhatian serupa.
Pengamat budaya Halida Nuriah Hatta menilai kekuatan novel ini terletak pada kemampuannya menghadirkan pengalaman sejarah sebagai sesuatu yang terasa dekat.
“Pembaca tidak hanya memahami peristiwa, tetapi ikut merasakan kepedihan yang diwariskan. Ini penting karena sejarah perbudakan orang Indonesia di luar negeri sering tidak dituturkan secara utuh,” ujarnya.
Sementara itu, komponis Ananda Sukarlan melihat novel tersebut sebagai jembatan antara tradisi dan emosi modern.
“Karya ini memadukan nilai-nilai Jawa kuno dengan pengalaman manusia yang universal. Ada daya tarik yang membuat pembaca terus mengikuti perjalanan tokohnya,” katanya.
Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia dengan judul “Sapaan Sang Giri” pada 2020, versi bahasa Inggrisnya hadir dua tahun kemudian dan memperluas jangkauan pembaca.
Karya ini menjadi contoh bagaimana sastra dapat berfungsi sebagai medium refleksi bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga memahami posisi manusia dalam sejarah yang panjang.
Pemenang “Chommanard International Women’s Literary Award 2026″ baru-baru ini telah diumumkan pada 3 April di Bangkok.
Terlepas dari hasil akhir, kehadiran Mountains More Ancient dalam daftar pendek telah menegaskan satu hal, yaitu cerita-cerita yang lama terpinggirkan kini mulai menemukan tempatnya di percakapan global.

















