PALEMBANG, fornews.co-Tokoh Masyarakat Palembang, Eddy Santana Putra menyatakan, masyarakat harus mencari pemimpin yang diyakini baik untuk Palembang.
“Orang baik itu sedikit, tapi small is beautiful. Agar nanti kita bisa mendapatkan pemimpin yang baik juga, maka carilah pemimpin yang mampu membawa Palembang lebih baik,” ujarnya, saat menjadi pembicara pada Focus Group Discussion (FGD) : “Equitas Pemimpin dan Tampilan Kota Palembang 5 Tahun Kedepan”, di Meet Up Cafe, Senin (22/1) malam.
Mantan Wali Kota Palembang Periode 2003-2013 itu bercerita, saat memimpin Kota Palembang untuk pertama kali, sangat malu dengan kondisi Kota Pempek yang berpredikat terkotor. “Ya saat itu sebagai wali kota saya sangat malu. Jadi saya menginginkan Palembang menjadi ternyaman, dari kondisi yang sangat kotor,” tuturnya.
Setelah dua periode kepimpinannya selesai, Eddy menerangkan, Kota Palembang masuk dalam 7 Kota ternyaman di Indonesia, hasil survey dari Ikatan Ahli Perencanaan yang dipublikasi tahun 2014. “Saya sempat searching kota ternyaman, ternyata palembang masih masuk 7 kota ternyaman hasil penelitian dari Ikatan Ahli Perencanaan. Itu tahun 2014, ada Balikpapan nomor satu, berikutnya Solo, Malang, Yogyakarta, Makassar, Palembang dan Bandung,” terangnya.
Eddy berharap, keberhasilan Kota Palembang dalam membangun kota, bisa dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Karena untuk mendapatkan predikat itu, ada 27 indikator yang harus dipenuhi, diantaranya ketersediaan fasilitas, air bersih dan bagaimana interaksi antar penduduknya.
Kemudian, jelas Eddy, pemimpin ataupun calon pemimpin Kota Palembang, harus bersyukur memiliki Sungai Musi yang terbentang di tengah kota. Potensi ini harus dimanfaatkan maksimal, terutama bagi sektor pariwisata. “Tempat rekreasi sebenarnya bisa kita buat, kita punya Sungai Musi, ini rahmat dari Allah, di Indonesia tidak semua daerah punya sungai sebesar itu,” jelasnya.
Sementara itu, Komisioner KPU Palembang, Abdul Karim Nasution menilai, pada pelaksanaan pilkada tahun ini akan lebih sulit, dibanding pesta demokrasi lima tahun sebelumnya. Tantangan yang paling berat adalah banyaknya informasi yang tidak jelas kebenarannya, yang beredar di media sosial (Medsos). “Tantangan paling berat, di zaman media sosial ini, akan banyak informasi yang tidak jelas. Oleh karena itu, kami akan selalu menjada netralitas KPU,” ujarnya.
Selain Eddy Santana Putra dan Abdul Karim Nasution, pembicara pada FGD tersebut menghadirkan Rektor Universitas Taman Siswa Palembang Ki Joko Siswanto dan Ketua MAP FISIP Unsri dan Ketua Dewan Pakar IKA FISIP Unsri, Dr. MH Thamrin MSi.(tul)
















