PALEMBANG, Fornews.co – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, puncak musim hujan terjadi pada Januari – Februari 2021 di Indonesia, termasuk sebagian Sumatera Selatan.
“Berdasarkan kondisi tersebut, maka kewaspadaan akan potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai petir, harus terus ditingkatkan,” ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto dalam keterangan resminya.
Sementara itu, hujan lebat di Wilayah Sumatera Selatan sendiri diperkirakan dengan status level siaga. Berdasarkan prakiraan yang berlaku Kamis, 11 Februari 2021, ada enam kabupaten kota yang berpotensi terdampak.
“Wilayah di Sumsel yang diperkirakan terdampak yakni Kabupaten Musi Banyuasin, Musi Rawas Utara (Muratara), Musi Rawas (Mura), Muaraenim, Lahat, dan Penukal Abab Lematang Ilir (Pali),” sebut Kepala Bidang Penanganan Darura Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan, Ansori, Kamis.
Ansori merinci, wilayah terdampak di Muba antara lain di Batang Hari Leko, Babat Toman, Sanga Desa, Plakat Tinggi, Sungai Keruh, Lais, Sekayu, dan Lawang Wetan. Selanjutnya untuk wilayah Muratara, tepatnya di Nibung, Rawas Ulu, Ulu Rawas, Karang Jaya, Rupit, Rawas Ilir, serta Karang Dapo.
Di Mura, antara lain Muara Lakitan, Muara Kelingi, dan Bulang Tengah Suku Ulu. Lalu, di Muara Enim, tepatya di Ujan Mas, Gunung Megang, Rambang Dangku, Muara Enim, Benakat, dan Belimbing. Untuk wilayah Lahat di Merapi Timur. Terakhir di Penukal Abab Lematang Ilir, yaitu Talang Ubi, Tanah Abang, Penukal, Penukal Utara.
Menurut Ansori, dampak dari hujan lebat yang diprakirakan terjadi seperti sulit mengendarai kendaraan di jalanan. Adapula potensi sebagian kelompok masyarakat yang daerahnya terisolir. Hal yang terberat apabila mulai terjadi kerusakan pada rumah dan bangunan lainnya, atau bahkan sebagian masyarakat kehilangan mata pencaharian dan hewan ternak.
“Dampak umumnya jembatan yang rendah tidak dapat dilintasi. Gangguan lalu lintas karena jalan utama banjir atau ditutup. Mulai terjadi kerusakan pada jalan dan jembatan,” jelasnya.
Adapun gangguan skala sedang dan jangka menengah bisa terjadi pada layanan air bersih, listrik, dan gas. Gangguan skala sedang dan jangka menengah pada operasional sekolah dan rumah sakit. Mulai terjadi kerusakan pada tanggul-tanggul sungai. “Perlu waspada apabila sudah terjadi longsor, guguran bebatuan atau erosi tanah dalam skala menengah. Mulai terjadi wabah penyakit menular. Volume aliran sungai meningkat dan banjir.
Dampak pada lingkungan menurutnya sangat bisa terjadi seperti kerusakan pada tanaman, pendangkalan pada sungai dan bendungan hingga tidak berfungsi. Terjadi aliran puing, lahar, lumpur dalam skala menengah. Bahkan, dapat mempengaruhi penerbangan pesawat, perjalanan kereta, dan kegiatan pelabuhan. “Aliran banjir berbahaya bisa mengganggu aktivitas masyarakat dalam skala menengah,” ujarnya. (yas)

















