
PEKANBARU-Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Suwarjono menyampaikan, pertumbuhan media pasca reformasi begitu besar. Namun, media yang ada sekarang sebagian justru bukannya mencerdaskan masyarakat, tetapi sebaliknya suguhan berita tidak menyentuh persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menurut Mas Jono (Sapaan akrab Suwarjono), pada momentum Festival Media (Fesmed) yang diselenggarakan di Pekanbaru, Riau 19-20 November 2016, ada dua hal yang sangat penting dijalankan terkait dunia media. Pertama keinginan AJI membangun masyarakat melek media. Dimana keinginan masyarakat, pasca reformasi untuk dapat mengakses media sangat.
“Dengan kondisi ini, menuntut kita harus memilih, mencerna baru diterbitkan sehingga berita yang disampaikan ke masyarakat edukatif dan mencerdaskan,” ujarnya pada pembukaan Fesmed AJI di Pekanbaru, Riau Sabtu (19/11). Kegiatan yang berlangsung Perputakaan Wilaya Soeman HS, tersebut dihadiri President of Southeast Asian Press Alliance ( SEAPA) Eko Maryadi, Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman, Ketua DPRD Septina Primawati, Plt Wali Kota Pekanbaru Edwar Sanger, dan seluruh Peserta Fesmed dari AJI Kota Seluruh Indonesia serta sponsor.
Kemudian bagian yang tidak kalah penting sambung Masjono, AJI mengajak masyarakat untuk tahu apa yang terjadi di media. Media bukan sesuatu yang bersifat ekslusif, masyarakat bisa berinteraksi tidak hanya menjadi peniknat, bagimana kawan-kawan untuk menjadi Jurnalisme. “Karenanya AJI terus memberikan latihan dan literasi media. Supaya, ke depan masyarakat bisa menyuarakan situasi di sekitarnya melalui karya jurnalisme,” jelasnya.
Lanjut dia, bersamaan dengan tema Fesmed AJI Indonesia 2016, mengangkat isu lingkungan “Media Cerdas, Lestarikan Bumi”. Hal ini dikatakan Jono, tema lingkungan menjadi hal penting untuk disuarakan. Karena bagaimana susahnya ketika daerah ini dan beberapa daerah di Sumatera, menjadi langganan asap akibat kebaran lahan, hutan. “Ini menjadi cara kami untuk mengangkat isu besar, supaya ke depan untuk lebih meningkatkan kewaspadaan agar tidak menimbulkan kerusahan hutan,” katanya.
Pantauan di lapangan, seluruh delegasi AJI Kota se-Indonesia hadir meramaikan stan. Mayoritas membawakan kondisi kerusakan lingkungan akibat eksploitasi yang dilakukan oleh pemodal besar baik dari dalam maupun luar negeri. Tidak terkecuali AJI Kota Palembang, pada tahun 2015 begitu besar kerusakan lingkungan dampak dari eksploitasi hutan, sehingga berdampak pada hilangnya habitat makhluk hidup.
Sementara, Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman berterima kasih telah memilih Riau, untuk menyelenggarakan Fesmed, dan kebetulan ini pertama di pulau sumatera. “Memang sekarang, kita butuh banyak dikunjungi organisasi, yang ingin dekat dan tahu Provinsi Raiu. Jelas pertumbuhan suatu daerah butuh banyak masukan, dan itu tidak jarang datangnya dari luar,” tuturnya.
Dirinya juga meminta kepada para Jurnalis dari seluruh penjuru nusantara, untuk menggali potensi yang ada di Riau, sehingga dapat mempengaruhi laju pembangunan di daerah tersebut. “AJI merupakan mitra pemerintah untuk meningkatkan pembangunan, menampung aspirasi masyarakat untuk diberitakan. Riau akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Walau ada humas dan kominfo tentu tidak cukup dan butuh stakeholder,” pungkasnya.(ibr)
















