BATURAJA, fornews.co – Senjata tradisional merupakan simbol kekuatan bagi masyarakat di Indonesia. Bahkan, pada masa penjajah, para pahlawan menggunakan senjata tradisional sebagai alat untuk menumpas penjajah di bumi pertiwi.
Setiap daerah atau suku di Nusantara, memiliki senjata tradisional dengan kekhasan masing-masing yang dibalut dengan budaya dan nilai seni yang tinggi. Bahkan dewasa ini, tidak jarang senjata tradisional menjadi lambang daerah, ada Badik dari Bugis, Rencong dari Aceh, dan Keris dari Jawa. Serta menjadi koleksi berharga.
Seperti Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), Herdianto. Kegemarannya terhadap senjata atau benda tradisional, membuatnya untuk mengoleksi warisan budaya lokal tersebut. “Saya memang hobi mengoleksi senjata tradisional. Hobi ini sudah sejak lama. Senjata tradisonal ini ada yang saya beli, ada yang tuker dengan teman. Ada juga di kasih teman satu angkatan saya,” tuturnya saat ditemui fornews.co, di ruang kerjanya Selasa (15/08).
Menurut Herdianto, senjata tradisional memiliki design atau bentuk yang bernilai seni tinggi dibanding dengan senjata lainnya. “Hal ini harus dijaga dan dilestarikan sehingga, anak-cucu masih bisa mengenal dan menyaksikan langsung warisan leluhur kita. Namun, jangan disalahgunakan untuk tindak kejahatan,” kata pria bertubuh besar ini.
Baginya, koleksi senjata tradisionalnya bukan untuk pamer, bukan untuk gagah-gagahan, bukan juga untuk diselipkan di pinggang. Melainkan, menjadi perhiasan meja kerjanya sebagai pembina masyarakat yang tersandung hukum (warga binaan).
“Mulai dari bentuknya sudah indah dan enak di pandang. Seperti halnya rencong dan keris ini. Tidak terlalu besar namun lekuk-lekukan yang ada pada senjatanya sudah sangat sedap dilihat. Buka untuk gagah-gagahan. Bukan pula untuk terselip di pinggang. Ini cuma untuk koleksi dan pajangan saja,” bebernya.
Selain senjata tradisional dari tiga pulau di Indonesia, Herdianto juga dengan senang hati menunjukka koleksi lainnya. Ada yang berupa tongkat komando gagangnya terbuat dari kayu stigi bentuk berkepala naga. Ia menceritakan, dari informasi yang didapat bahwa kayu stigi memiliki khasiat penangkal ular. Kendati demikian, ia mengaku belum pernah merasakan langsung dari khasiat tersebut.
“Yang jelas, saya hanya koleksi untuk pajangan dan senang dengan bentuk dan seni budayanya saja. Masalah khasiat dan lain-lain, saya hanya percaya kepada Allah SWT. Semua itu hanya atas kehendak-Nya,” ucapnya.
Dalam kesempatan ini, ia juga memberi tips sederhana untuk menjaga senjata koleksinya agar tetap terlihat mengkilat dan tidak mudah rusak. Yakni cukup dengan membersihkan, dan sarung atau gagangnya dilap dengan cairan minyak angin. “Tidak ada ritual atau macem-macem. Karena senjata-senjata koleksi saya murni hiasan untuk pajangan di kantor dan di rumah,” tandasnya. (gus)

















