JOGJA, fornews.co — Sutradara kenamaan Indonesia, Hanung Bramantyo, berbagi pengalaman proses kreatif film terbarunya berjudul “Bolong” di Universitas Amikom Jogjakarta.
Sesi diskusi yang berlangsung pada Kamis, 4 Desember, ini merupakan bagian dari rangkaian program edukasi Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025.
Di hadapan mahasiswa, Hanung, memaparkan perjalanan panjang lahirnya film “Bolong”, karya yang menurutnya menjadi salah satu produksi paling menantang dalam kariernya.

Film ini mengangkat isu relasi manusia dengan ruang batin, kegelisahan, dan pengalaman traumatis yang divisualkan secara metaforis.
“Bolong bukan sekadar judul. Ia adalah kondisi, ruang kosong dalam diri manusia yang sering kita biarkan, tapi sesungguhnya memengaruhi cara kita hidup,” ujar Hanung.
Hanung menjelaskan, produksi “Bolong” menuntut eksplorasi visual yang tidak biasa. Tim artistik harus mengolah ruang, tekstur, dan pencahayaan agar dapat mewakili kondisi psikologis karakter utama.
“Film ini mengandalkan bahasa visual. Tantangan terbesar adalah bagaimana membuat penonton merasakan kekosongan batin tokoh tanpa harus terlalu banyak dialog,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa proses riset melibatkan psikolog, penulis naskah, dan komunitas seni kontemporer untuk memastikan pendekatan film tetap relevan dan mendalam.

Dalam sesi dialog, Hanung mendorong mahasiswa Amikom untuk menganggap film bukan hanya produk hiburan, tetapi medium ekspresi dan penyampai gagasan.
“Kalau mau bertahan di industri, jangan hanya mengejar teknis. Kuasai ceritanya. Film yang baik selalu dimulai dari kegelisahan yang jujur,” tegasnya.
Hanung juga mengingatkan pentingnya disiplin, kolaborasi, dan keberanian bereksperimen dalam dunia perfilman.
Acara yang diproduseri oleh Sherly Kosasih ini mengenalkan Carissa Perusset dan Anya Zen yang membintangi film “Bolong”.
JAFF menyebut sesi bersama Hanung Bramantyo merupakan bagian dari komitmen festival untuk menjembatani pembuat film profesional dengan generasi muda.
“JAFF bukan hanya perayaan film, tetapi ruang belajar. Kehadiran Mas Hanung menginspirasi mahasiswa untuk melihat film dari sudut pandang kreator,” kata perwakilan JAFF.
Mahasiswa Amikom tampak antusias mengikuti diskusi, terutama ketika Hanung membahas adegan-adegan kunci dalam “Bolong” yang belum dipublikasikan ke ruang publik.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama, sekaligus harapan Hanung agar lahir lebih banyak pembuat film muda dari Jogjakarta.
“Dunia film membutuhkan darah baru. Terus berkarya, terus gelisah, dan terus mencari ‘bolong’ yang ingin kalian isi melalui film,” pungkasnya.
Ikuti Berita dan Artikel lain di Google News
Reporter: A.S. Adam | Editor: A.S. Adam
Copyright © Fornews.co 2016-2025. All rights reserved.

















