JAKARTA, fornews.co – Hasil jajak pendapat Cegah Stunting bersama CIMSA dan AMSA Indonesia yang dilakukan melalui platform U-report survey menunjukkan 62,6 persen responden menyatakan kesehatan mental mejadi masalah kesehatan utama.
Hal itu disampaikan Internal Affair Director Cegah Stunting, Wilson Widal Kho, pada kegiatan Kantor Staf Presiden (KSP) Mendengar, di Jakarta, Sabtu (16/12/2023).
Wilson melanjutkan, bahwa survei yang melibatkan 4.813 orang muda sebagai responden tersebut, menunjukkan 62,6 persen responden menyatakan kesehatan mental mejadi masalah kesehatan utama.
“Sementara 55,52 persen menyebut kehamilan remaja dan pernikahan anak, serta 39,66 persen terkait kekerasan antar personal. Menurut responden kesehatan mental adalah masalah yang paling dekat,” ujar dia.
Tenaga Ahli Utama KSP, Brian Sri Prahastuti mengatakan, memang kesehatan mental menjadi masalah utama bagi banyak remaja di Indonesia dan menjadi perhatian pemerintah.
“Terlebih berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, diperkirakan 1 dari 5 remaja di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental,” kata dia.
Penanganan kesehatan mental ini, kata Brian, butuh keterlibatan semua pihak, seperti keluarga, sekolah, dan komunitas. Dari pemerintah sendiri telah meluncurkan program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Layanan ini diharapkan bisa meningkatkan akses remaja untuk memenuhi hak-hak kesehatannya, termasuk kesehatan mental.
“KSP juga mendorong kementerian dan lembaga untuk menguatkan kebijakan program yang mampu mengatasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kerentanan jiwa remaja Indonesia,” kata dia.
Brian mengungkapkan, pemenuhan hak kesehatan bagi remaja menjadi penting, karena saat ini remaja (Gen Z) merupakan kelompok populasi terbesar di Indonesia, yakni 74.9 juta jiwa atau 27,9 persen dari total penduduk Indonesia.
“Indonesia juga akan menikmati bonus demografi pada 2035, di mana 70% dari total penduduk adalah usia produktif. Jadi pemenuhan hak kesehatan remaja merupakan investasi untuk mewujudkan Indonesia Emas,” ungkap dia.
Penilaian lain dari komunitas yang bergerak di bidang kesehatan mental remaja dan Founder Pasti.id, Yofania Asyifa, pentingnya edukasi kesehatan mental harusnya tidak hanya kepada remaja, tapi juga orang tua.
“Sebab, para orang tua masih menganggap kesehatan mental sebagai sesuatu hal yang tabu. Apalagi ada stigma konsultasi ke psikolog dianggap mengalami masalah kejiwaan,” terang dia.
Yofania menambahkan, akses untuk kesehatan mental melalui BPJS Kesehatan juga masih sangat sulit. Untuk itu edukasi di Fasilitas Kesehatan tingkat pertama menjadi penting karena masih banyak tenaga kesehatan yang meremehkan kesehatan mental. (aha)

















