JOGJA, fornews.co — Dominasi film Indonesia yang menembus dua pertiga box office nasional pada 2024 menjadi sinyal kuat kebangkitan perfilman Tanah Air.
Momentum ini dijaga oleh JAFF Market, divisi bisnis Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), melalui riset data dan advokasi kebijakan berbasis bukti.
“Tanpa data, orang-orang hanya akan mengikuti arus dan kualitas film bisa menurun. Konsumen akan bosan, dan industri bisa mundur lagi,” ujar FX Iwan, ahli strategi bisnis JAFF Market pada pertengahan Oktober lalu.
Menurut riset JAFF Market bersama Cinepoint, film lokal menguasai 65 persen penjualan tiket atau sekitar 82 juta penonton pada 2024. Ini capaian tertinggi sejak kebangkitan sinema Indonesia pascareformasi.
Namun, Iwan menegaskan, keberhasilan ini hanya bisa berlanjut jika didukung oleh pemerataan infrastruktur bioskop.
Saat ini, Indonesia hanya memiliki sekitar 2.000 layar film untuk populasi 280 juta jiwa, dengan sebagian besar berada di Pulau Jawa.
“Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi masih sangat kurang terlayani. Itu pekerjaan rumah besar industri,” katanya.
Direktur pemasaran JAFF Market, Linda Gozali, menilai pembangunan bioskop independen di luar pusat perbelanjaan dapat menjadi solusi.
“Bioskop yang lebih terjangkau dan dekat dengan masyarakat bisa memupuk kebiasaan menonton sebagai bagian dari budaya,” ujarnya.
JAFF Market juga akan merilis laporan industri film nasional pada ajang tahunan keduanya, 29 November–1 Desember 2025, bersamaan dengan JAFF ke-20 di Jogja Expo Center (JEC), Jogjakarta.
Kegiatan ini akan mempertemukan pembuat film, produser, investor, dan distributor melalui program seperti JAFF Future Project, Content Market, Market Screening, dan Film & Market Conference.
“Kami ingin JAFF Market menjadi tempat di mana cerita, data, dan peluang bertemu,” ujar Sekarini Seruni, direktur bisnis JAFF Market.

















