JOGJA, fornews.co — Jogja Spark resmi diperkenalkan sebagai wadah pengembangan dan kurasi talenta Indonesia agar mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
Pendiri Jogja Spark, Imat Badruddin, menyebut inisiatif ini bukan hanya menjadi agensi talenta, melainkan sebuah ekosistem yang terhubung langsung dengan pasar global.
“Jogja Spark itu pada dasarnya adalah ekosistem dan agensi yang mengkurasi talenta Indonesia untuk berbagai kebutuhan, baik domestik maupun internasional,” ujarnya usai peresmian Jogja Spark di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN), Selasa, 28 April 2026.
Menurutnya, keunggulan utama Jogja Spark dibandingkan agensi lain terletak pada akses langsung ke jaringan internasional. Hal ini diperkuat dengan keberadaan kantor di New York, yang akan menjadi pintu kolaborasi dengan industri kreatif global.
“Kami akan banyak berkolaborasi dengan pasar internasional karena potensi industri kreatif sangat besar di sana,” tambahnya.
Tak hanya berfokus pada pasar luar negeri, Jogja Spark juga menargetkan kerja sama strategis dengan pemerintah, BUMN, BUMD, hingga sektor swasta di dalam negeri.
Melalui kolaborasi ini, pihak-pihak tersebut dapat memanfaatkan talenta yang telah dikurasi tanpa harus melalui proses rekrutmen yang panjang.

Dalam pengembangannya, Jogja Spark turut menggandeng berbagai pihak di Jogjakarta, termasuk melalui kolaborasi dengan MPAD Jogja. Fokusnya mencakup berbagai sektor kreatif seperti kampanye pemasaran, penguatan brand kota, hingga pengembangan teknologi digital seperti website, aplikasi, dan sistem keamanan siber.
“Kami ingin membantu dari sisi branding, campaign city, hingga pengembangan aplikasi–baik untuk HR, keuangan, maupun kebutuhan digital lainnya yang kini serba online,” jelas Imat.
Dijelaskan bahwa platform ini hadir sebagai wadah strategis yang tidak hanya berfokus pada pengembangan talenta, tetapi juga membuka akses ke peluang industri internasional.
Jogja Spark yang digagas oleh IBR Media Komunikasi Kreatif, melalui kolaborasi strategis bersama Pemerintah Kota Jogja, diharapkan mampu memperkuat ekosistem kreatif di daerah sekaligus meningkatkan daya saing talenta lokal di tingkat global.
Jogja Spark berperan sebagai jembatan antara talenta kreatif dengan kebutuhan industri yang terus berkembang, baik di dalam maupun luar negeri.
Platform ini, ungkap Imat, tidak hanya mencari dan mengembangkan talenta, tetapi juga menghubungkan mereka dengan dunia profesional dan bisnis global, sehingga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

Lebih jauh, Jogja Spark juga menyoroti tantangan utama yang dihadapi talenta kreatif Indonesia, yaitu kurangnya pemahaman terhadap standar industri.
Imat juga mengatakan banyak talenta yang memiliki kemampuan teknis, namun belum memahami aspek profesional seperti brand guideline, standar desain, hingga kebutuhan spesifik tiap industri.
“Banyak yang jago ilustrasi atau Photoshop, tapi belum paham standar industri. Misalnya, aturan layout, pemilihan warna, hingga kesesuaian dengan brand klien,” ungkapnya.
Imat menegaskan bahwa setiap sektor memiliki standar berbeda, mulai dari media, perfilman, hingga telekomunikasi. Oleh karena itu, pelatihan dan sertifikasi menjadi hal penting agar talenta dapat memenuhi kebutuhan pasar.
“Sertifikasi sering kali menjadi syarat utama untuk bisa bekerja secara profesional. Tanpa itu, sulit untuk masuk ke industri,” katanya.
Dengan pendekatan kurasi, pelatihan, dan sertifikasi, Jogja Spark optimistis dapat menciptakan ekosistem yang berkelanjutan serta meningkatkan daya saing talenta kreatif Indonesia di kancah global.
“Harapannya, Jogja bisa menjadi pusat pengembangan talenta kreatif yang tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga di dunia,” tandas Imat.

















