YOGYA, fornews.co—Khitanan Bersama di Pura Pakualaman, Ahad (6/2/2022), disambut antusias oleh masyarakat Yogyakarta hingga melebihi kuota yang ditargetkan.
Khitanan bersama yang merupakan serangkaian peringatan Hadeging Kadipaten Pura Pakualaman ke-216 (Tahun Jawa) berlangsung tanggal 10 Januari – 19 Maret 2022.
Baca: Peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-216 Lestarikan Warisan Budaya Bangsa
Ketua Peringatan Hadeging Kadipaten Pura Pakualaman ke-216, BPH Kusumo Bimantoro, mengatakan khitanan tidak hanya wajib dalam agama, secara umum memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.
“Kita itu adalah merupakan tindakan medis yang wajib dilakukan secara hukum dalam hukum agama Islam,”ucapnya.
“Bagi anak laki-laki dan juga sangat memiliki banyak manfaat bagi kesehatan diri.”
Dijelaskan, Khitanan Bersama tersebut sebagai salah satu wujud peran serta Kadipaten Pakualaman dan Bidang Sosial Kesehatan terhadap masyarakat umum.
Bahkan Khitanan Bersama berdampak langsung bagi masyarakat di Pura Pakualaman dan sekitarnya.
Baca: Kadipaten Pakualaman Gelar Sayembara Jemparingan Mataraman
Perekonomian yang terpuruk akibat pandemi Covid-19 tidak mudah bagi masyarakat mendapatkan layanan khitan secara gratis.
“Kita semua tahu, begitu mempengaruhi segala aspek—segala lapisan masyarakat—sehingga otomatis yang namanya pendapatan berkurang. Otomatis banyak keluarga yang punya anak laki-laki tetapi belum dikhitan. Untuk itu kami mewadahi dengan khitanan bersama ini.”
Pihaknya berharap, adanya Khitanan Bersama di Kadipaten Pakualaman dapat menjadi upaya bersama meringankan beban masyarakat di masa pandemi Covid-19.
Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada usia produktif dan lansia, imbuhnya, namun, juga pada adik-adik pada usia dini.
“Program-progam gratis seperti ini perlu diperluas,” ujar BPH Kusumo Bimantoro.

Khitanan Bersama atas kerja sama Kadipaten Pura Pakualaman dan Klinik Khitanan Paramedika itu diikuti puluhan peserta melebihi kuota yang ditargetkan sebanyak 60 peserta.
“Khitanan Bersama ini kita memberikan yang terbaik buat anak-anak. Jadi, semua obat-obatan menggunakan yang kelas satu,” ujar Direktur Klinik Paramedika, Iin Andung, kepada fornews.co.
Sebanyak 18 tenaga medis dan non medis diterjunkan dalam Khitanan Bersama. Setiap tempat tidur (bed red.) sebanyak 5 bed disiagakan 1 dokter dan 2 perawat.
Sedangkan tenaga medis lainnya bertugas menangani pasien untuk tetap tenang dan nyaman saat proses khitan.
Baca: Vaksinasi Massal, Pakualaman Sehatkan Indonesia
“Tentunya ada meja sendiri untuk meja medis dan lain sebagainya. Kita menyiapkan 5 bed,” ujarnya.
Untuk dapat mengikuti Khitanan Bersama, Direktur KKP itu memastikan tidak ada persyaratan khusus untuk mengikuti khitanan bersama di Kadipaten Pakualaman.
“Syarat mengikuti khitanan bersama ini pertama yang penting harus sehat. Jadi tidak boleh demam di atas 37,5.”
Namun, pihaknya tidak menerima anak-anak atau pasien khitan yang mengalami Hipospadia.
“Hanya kebanyakan khitan di Jogja ini usianya sudah usia besar. Jadi, itu sudah banyak lengket, kotor di dalamnya,” ungkapnya. “Jadi, agak lama karena kita terlebih dahulu melakukan pembersihan.”

Meski tidak ada persyaratan khusus untuk dapat mengikuti Khitanan Bersama, pihaknya tidak bisa memastikan jumlah peserta yang ikut.
“Karena kadang anak juga sakit atau belum siap. Yang menyusul bisa disunat di Paramedika.”
Pihaknya berharap dengan adanya Khitanan Bersama yang diadakan oleh Kadipaten Pakualaman dan Klinik Khitan Paramedika dapat memberikan fasilitas terbaik bagi masyarakat Yogyakarta.
“Harapan kami Jogja ini ora ana sing keri (tidak ada yang tertinggal), karena di masa pandemi ini, masyarakat mau tidak mau, realita di lapangan secara ekonomi banyak penurunan.”
Sehat bermula dari khitan, imbuhnya, karena dari khitan bakteri dan virus akan hilang.
“Kalau semuanya baik, kita sehat, Insyaa Alloh bakteri dan virus hilang. Jadi, Jogja sehat!” pungkasnya.

Salah seorang warga bernama Imam Budi Santoso mengaku senang dapat mengikutsertakan anaknya dalam Khitanan Bersama di Kadipaten Pura Pakulaman.
Bahkan, dirinya sangat bangga karena Kadipaten Pakualaman telah memperhatikan masyarakatnya.
“Saya merasa bangga, sebagai warga diperhatikan melalui khitanan bersama ini,”ungkapnya.
Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat anaknya yang berusia 12 tahun, kelas 6 siswa SD Pangudi Luhur, dipanggil melalui pengeras suara.
“Ini wujud cinta Kadipaten Pakualaman terhadap warganya,” ungkap Imam Budi Santoso.
Darma Mulyarja di Pura Pakualaman itu dihadiri langsung oleh Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAy) Adipati Paku Alam. (adam)
















