penulis : muhammad iqbal
“Sukses saya itu bukan dibangun atas dasar kecerdasan intelektual dan kecerdasan teknikal. Namun lebih kepada kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Jadi, 80 persen sukses orang itu karena kecerdasan emosional, bukan kecerdasan intelektual,”.
Pernyataan itulah diutarakan mantan Menteri Badan Usaha Milik Negera (BUMN) 2004-2007, Dr Sugiharto, SE, MBA, saat menjadi pembicara di Universitas Taman Siswa (Unitas) Palembang, Sabtu (10/03).
Saat dibincangi fornews.co tak lama tiba di Kampus Unitas, Menteri BUMN di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu terlihat cukup santai. Sambil menyenderkan tubuh tambunnya di kursi, Sugiharto menjawab semua pertanyaan dengan penjabaran yang runut dan sistematis.
“Saya diminta rektor (Unitas) untuk memberikan inspirasi kepada adik-adik mahasiswa umumnya. Juga, karena kita sudah memasuki era industri four point zero (4.0), jadi tenaga pendidik juga perlu dicerahkan, karena perubahan zaman begitu cepat,” katanya mengawali perbincangan.
Komisaris Utama PT Jababeka Insfrastruktur Industrial itu menceritakan, bahwa dia bukan berasal dari keluarga kaya ataupun serba ada. Sejak SMP (SMP Taman Siswa Kemayoran, Jakarta), dirinya menjadi pembantu rumah tangga. Bukan hanya itu, Sugiharto muda juga harus nyambi jualan rokok keliling di pangkalan ojek dan becak. Kemudian di masa SMA, menjadi tukang parkir di bioskop untuk menyokong biaya sekolahnya.
“Saya juga pernah jadi kuli di Tanjung Priok. Tapi dengan kerja keras, bisa berubah dari zero ke hero, kira-kira begitu,” ujar pria jebolan Fakultas Ekonomi , Universitas Indonesia itu.
Karena kemauan yang keras untuk terus belajar, diiringi dengan kerja keras, usaha Sugiharto akhirnya berbuah manis. Di era Presiden SBY, pria jebolan S-3 UGM dengan predikat Cumlaude itu didapuk menjadi Menteri BUMN. Bahkan saat ini, pria kelahiran Medan, 29 April 1955 itu, punya fungsi penting di sejumlah perusahaan sebagai komisaris. Kemudian, dirinya juga menjadi pengusaha di bidang kelapa sawit, memiliki 3 perusahaan di bidang properti, serta memiliki usaha travel.
Nah, di zaman yang sudah berubah sangat begitu cepat sekarang ini. Lanjut Sugiharto, kalau kampus, baik itu mahasiswa maupun tenaga pendidik tidak berubah, maka akan dilindas oleh zaman dan akan hilang dari kompetisi, tanpa mengikuti perkembangan perubahan zaman, sebuah universitas juga bisa tutup ataupun bisa bangkrut.
“Jadi saya hadir di sini untuk memberikan sentuhan-sentuhan, bagaimana kiat-kiat perguruan tinggi, khususnya Unitas, seluruh civitas, tersadar dan sama-sama mau mengubah diri untuk bisa adaptasi dengan perubahan zaman,” ungkapnya.
Untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, lanjut Sugiharto, tentunya kiat yang harus dilakukan itu di antaranya, menjadi pembelajar, selalu mendengarkan orang lain sebagai sumber ilmu, kemudian mengolah, lalu menjadikan basis emosi sebagai manajemen dalam diri.
“Sukses saya itu bukan dibangun atas dasar kecerdasan intelektual dan kecerdasan teknikal, namun lebih kepada kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Jadi, 80 persen sukses orang itu karena kecerdasan emosional, bukan kecerdasan intelektual,” tuturnya.
Sugiharto memaparkan, perubahan adalah sebuah keniscayaan, jadi kalau mau meraih masa depan, tentunya mahasiswa harus siap bersaing dengan puluhan juta generasi muda lain yang juga akan berkompetisi di era industri four point zero.
“Sampai 2030 nanti, akan ada tambahan 90 juta konsumen kelas baru, dan dia akan mengisi pasaran kerja, mengisi masa depan Indonesia. Karena dengan bonus demografi di mana 67-70 persen penduduk kita yang berusia 16-65 tahun. Maka mahasiswa di sini akan bersaing dengan mereka-mereka, kalau mau menang, ya belajar dengan kiat-kiat saya. Bagaimana kita memenangkan pertarungan dalam kompetisi, belajar, kerja keras, berdoa, ikhtiar. Kalau gaptek di era industri four point zero, maka susah untuk meraih mimpi,” paparnya.
“Saya juga mendorong, agar kuliah itu tidak hanya teori, tapi praktik harus lebih lama, agar setelah tamat dapat tempat kerja lebih cepat, lebih pasti dan berkualitas. Saya tekankan di sini, semangat untuk terus belajar dan bekerja. Belajar dan bekerja itu adalah ibadah,” tandasnya.

















