KAYUAGUNG, fornews.co – Bagi sebagian orang, terasi menjadi salah satu bumbu masakan yang tak boleh terlewatkan saat memasak. Terlebih ketika masakan tersebut memang mengharuskan agar olahan berbahan dasar udang rebon atau ikan ini hadir dalam komposisi masakan tersebut.
Seiring perkembangan zaman, terasi yang dulu bentuknya seperti adonan atau pasta yang berwarna hitam atau cokelat kemerahan kini mulai banyak mengalami perubahan. Hal ini tentunya untuk lebih memudahkan bumbu khas Nusantara ini lebih mudah dalam digunakan.
Di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) misalnya, terasi Selapan yang sangat terkenal di daerah ini juga turut mengalami perubahan baik dalam pengolahan, bentuk, hingga kemasan. Seperti halnya terasi kering yang siap santap buatan Kelompok Usaha Desa Simpang Tiga Makmur, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten OKI yang merupakan salah satu binaan dari Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Pemerintah setempat.
Dengan hadirnya varian baru dalam olahan terasi ini bisa membuat terasi Selapan lebih dikenal lagi ditengah masyarakat. Selain itu, dengan kemasan yang cukup cantik ini diharapkan produk ini bisa masuk ke supermarket ataupun swalayan yang ada.
“Ini merupakan terobosan baru dan sepertinya ini dapat meningkatkan hasil pengrajin terasi rumahan, bahkan saat ini mereka sudah memproduksi 200 botol terasi kering,” kata Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian OKI, Herliansyah Hilaluddin SSTP, Selasa (03/12).
Pria yang memiliki postur tubuh cukup tinggi ini mengklaim bahwa konsumen juga sudah cukup banyak yang menanyakan produk yang berbahan dasar udang ini. “Karena selain cocok sebagai bahan dapur juga bisa disajikan di rumah makan seperti kecap dan saus. Karena ini tanpa pengawet dan sudah besertifikay halal dari MUI serta label PIRT. Banyak dari kalangan ibu-ibu yang ingin memesan produk tersebut,” ujarnya.
Sebelumnya, lanjut Herly kelompok tersebut baru saja mendapat bantuan mesin pengolahan terasi. Dengan begitu bahan buku terasi ini bisa diolah menjadi olahan yang lebih enak, higienis berkualitas dan tanpa bahan pengawet. “Proses pembuatannya memang sedikit rumit dan panjang, mulai dari menyiapkan udang segar yang dibersihkan kemudian direndam dengan garam selama satu malam,” tuturnya.
“Selanjutnya udang dijemur selama empat jam dan digiling. Dijemur kembali hingga lebih kurang tiga jam, lalu digiling dan jemur lagi tiga sampai empat jam, langsung digiling dan disangrai sampai kering. Baru dimasukkan dalam kemasan dan dipasang label,” sambungnya.
Terkait harga, Herly mengungkapkan bahwa satu kemasan dengan berat isi 100 gram dihargai Rp20 ribu. “Ini bisa bertahan hingga dua tahun,” jelasnya.
Yang menjadi kendala saat ini, terangnya adalah jarak tempuh dari lokasi produksi ke lokasi-lokasi pemasaran sehingga harus dipasang harga seperti yang ada saat ini. Dirinya juga mengharapkan agar anggaran-anggaran BUMdes yang ada di setiap desa bisa betul-betul dimanfaatkan untuk membina BUMdes yang ada salah satunya seperti usaha pembuatan terasi ini.
Terpisah, salah seorang ibu rumah tangga di Kayuagung, Limah mengungkapkan bahwa dirinya pernah mendapatkan terasi kering tersebut beberapa waktu lalu. Menurutnya, produk ini cukup praktis karena bisa langsung digunakan.
“Kalau tidak salah waktu ada bazar di HUT OKI, coba beli tapi lupa produknya dari mana. Tapi memang ini enak, praktis, hanya saja kalau untuk mendapatkannya agak sulit untuk itu diharapkan ini bisa diproduksi lebih besar lagi,” singkatnya. (rif)

















