PALEMBANG, fornews.co – Direktur Utama PT Catur Putra Manggala, Junaidi (52) alias Ajun, angkat bicara terkait viral nya video di media sosial (medsos) saat dirinya memukul pelaku penggelapan mobil milik perusahaan, Irza Prasetya, dengan menggunakan kayu panjang.
Junaidi melalui Kuasa Hukumnya, Benny Murdani, SH, MH menyatakan, bahwa beredarnya video yang viral di medsos tersebut memicu beragam penafsiran di tengah masyarakat.
“Potongan video yang beredar itu tidak menggambarkan peristiwa secara utuh, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap kliennya,” ujar dia kepada awak media, Sabtu (6/6/2026).
Benny menegaskan, justru kliennya sudah lebih dahulu membuat laporan polisi di Polsek Sukarami terkait dugaan penggelapan mobil miliknya.
“Perlu kami luruskan, narasi yang berkembang di media sosial seolah-olah klien kami adalah pihak yang melakukan penganiayaan tanpa sebab. Faktanya, peristiwa ini berawal dari dugaan penggelapan mobil yang telah kami laporkan ke Polsek Sukarame,” kata dia.
Kejadian itu, ungkap Benny, bermula saat pelaku melamar pekerjaan sebagai sopir di PT Catur Putra Manggala dan kemudian diterima bekerja. Dalam hubungan kerja itu, sambung dia, kliennya Ajun memberi kepercayaan kepada pelaku Irza berupa kunci kendaraan serta uang operasional untuk bahan bakar.
“Namun, kendaraan itu diduga tidak dikembalikan, justru dibawa pergi tanpa izin. Mobil itu kemudian ditemukan di kawasan Desa Langkan, Kabupaten Banyuasin, melalui sistem pelacakan GPS,” ungkap dia.
Benny menjelaskan, setelah mengetahui kendaraan perusahaan dibawa kabur, kliennya sempat terpancing emosi. Hingga terjadi tindakan spontan yang berujung pada pemukulan terhadap terduga pelaku.
“Tindakan itu bukan perbuatan yang direncanakan, namun reaksi sesaat akibat tekanan emosional setelah merasa dirugikan. Itu murni reaksi sesaat karena emosi,” jelas dia.
Pihaknya, urai Benny, sangat menyayangkan beredarnya potongan video yang dinilai tidak utuh dan kemudian membentuk opini publik yang kurang tepat terhadap kliennya.
“Kami berharap masyarakat dapat melihat peristiwa ini secara utuh dan berimbang, tidak hanya berdasarkan potongan video yang beredar di media sosial,” kata dia.
Sementara, Junaidi melanjutkan, bahwa menyesal atas hal yang terjadi dan menyebut dirinya berada dalam kondisi emosi sesaat saat insiden berlangsung.
“Saya menyesal atas kejadian itu. Saat itu saya emosi karena merasa sangat dirugikan dan kehilangan kendaraan, namun itu terjadi secara spontan,” tandas dia. (kaf)

















