PALEMBANG, fornews.co – Turun ke Liga 2 membuat fasilitas yang didapatkan Sriwijaya FC turut berkurang. Salah satunya fasilitas lapangan yang menjadi kandang Laskar Wong Kito.
Sebelumnya saat masih bermain di Liga 1, Sriwijaya mendapat fasilitas penuh. Tidak hanya bertanding, namun saat latihan pun menggunakan lapangan di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring. Akan tetapi musim ini saat harus berkompetisi di kasta kedua, lapangan di Stadion Gelora Sriwijaya seolah menjadi kandang lawan yang hanya bisa dipakai saat latihan resmi sehari jelang pertandingan.
Memang di latihan perdana musim ini Yongki Aribowo dkk sempat merasakan rumput Stadion Gelora Sriwijaya. Akan tetapi sesudahnya, Laskar Wong Kito harus melakoni latihan rutin di lapangan Jakabaring Athletic Stadium. Kondisi ini jelas berbeda karena lapangan di tengah lintasan atletik tersebut kualitasnya sangat jauh dibandingkan lapangan di Gelora Sriwijaya. Hal ini jelas mengakibatkan feel pemain sedikit berkurang.
“Memang beginilah kondisinya, kita sama dengan lawan yang menggunakan lapangan di Stadion Gelora Sriwijaya pada H-1. Jadinya ya laga kandang seperti tandang,” ujar Pelatih Sriwijaya FC Kas Hartadi menjawab pertanyaan wartawan pada pre-match press conference, Sabtu (22/06).
Diakui Kas, ada perbedaan yang dilihatnya pada latihan resmi. Yang paling kasat mata adalah ukuran lapangan di Stadion Gelora Sriwijaya yang lebih lebar. Selain itu rumputnya juga lebih tebal dan permukaan lapangan yang lebih lembut.
“Memang harus adaptasi (latihan) setidaknya dua sampai tiga kali. Tapi gak jadi masalah, saya minta pemain jangan pikirkan soal lapangan. Main di lapangan rumput bagus harusnya lebih baik. Pemain profesional main dimana saja harus bisa,” tegas Kas.
Sementara itu, Kapten Sriwijaya FC Ambrizal pun cukup kaget ketika menggelar latihan resmi. Sebab lapangan di Stadion Gelora Sriwijaya sangat jauh berbeda dengan kondisi lapangan latihan sehari-hari.
“Cukup kaget, lapangan bagus sekali. Latihan (di lapangan) rumput tipis dan keras, ini di Stadion Gelora Sriwijaya rumputnya tebal dan lembut. Yang paling terasa itu pola sentuhan agak beda, ada sesekali miss sedikit,” katanya.
Menurut Ambrizal, kondisi seperti ini berbeda saat dirinya memperkuat Sriwijaya di musim 2007 hingga 2010. Baik latihan maupun pertandingan selalu digelar di Stadion Gelora Sriwijaya. Kalaupun harus latihan keluar itu dikarenakan stadion sedang digunakan kegiatan lain atau sedang dalam pemeliharaan.
“Sebenarnya ini kerugian besar sebagai tuan rumah. Selama tiga bulan masa persiapan, hanya berapa kali latihan di lapangan Gelora Sriwijaya. Tapi gak ada masalah, kita tetap harus bisa main dalam kondisi apapun,” tutur Ambrizal.
“Harapan besar kita, setelah ini bisa latihan rutin di Stadion Gelora,” imbuhnya. (ije)
















