JOGJA, fornews.co — Paes Ageng Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi salah satu warisan budaya milik Karaton Jogjakarta, bukan sekadar riasan wajah, namun, juga merupakan simbol status sosial, keindahan, dan nilai-nilai luhur budaya Jawa.
Paes Ageng Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki makna filosofis yang mendalam sehingga menjadi pedoman dan tuntunan bagi pengantin wanita untuk menjadi perempuan yang baik.
Pada masa Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Paes Ageng awalnya hanya dipakai khusus oleh keluarga karaton dan bangsawan sebagai simbol kekuasaan dan status sosial.
Paes Ageng menjadi salah satu hal penting dalam upacara pernikahan kerajaan karena setiap detail riasan memiliki simbol tersendiri.
Perias Paes Ageng yang disebut perias paes sangat berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya merias pengantin perempuan.
Setiap elemen dalam riasan Paes Ageng terdapat simbol yang mencerminkan harapan dan doa bagi pasangan pengantin yang akan melaksanakan pernikahan.
Dalam tata rias Paes Ageng terdapat beberapa elemen yang mengandung makna filosofi:
- Cengkorongan atau Paes
Garis hitam tebal melengkung dari dahi. Ini adalah bagian paling menonjol dari Paes Ageng yang melambangkan bulan sabit simbol kesuburan dan kemakmuran. - Penunggul
Hiasan berbentuk bulat di tengah dahi yang melambangkan matahari, sumber kehidupan dan energi. - Pengapit
Dua garis hitam yang mengapit Cengkorongan melambangkan dua kekuatan alam semesta: siang dan malam. - Gawangan
Hiasan berbentuk segitiga di atas Cengkorongan melambangkan gunung simbol kekuatan dan keabadian. - Centhung
Hiasan berbentuk bulat kecil di bawah Cengkorongan melambangkan mata air sumber kehidupan dan kesegaran. - Paes Prada
Hiasan berwarna emas atau line yang menegaskan menghiasi bagian-bagian tertentu pada wajah melambangkan kemewahan, kemuliaan, dan kebahagiaan. - Riasan Mata
Riasan mata yang tajam dan tegas melambangkan kecerdasan dan ketegasan. - Riasan Bibir merah merona melambangkan kecantikan dan kemolekan.

Berjalannya waktu, Paes Ageng yang sebelumnya hanya dipakai di lingkungan karaton, atas nama kebudayaan kemudian diperbolehkan digunakan oleh masyarakat umum dalam pernikahan adat Jawa.
Namun, meski diperbolehkan, masyarakat tidak lantas dapat memakai tradisi tata rias Paes Ageng dengan seenaknya sendiri. Ada tata cara dan aturan baku yang wajib dilakukan.
Banyak yang mengakui tata rias Paes Ageng Ngayogyakarta Hadiningrat sangat rumit dan detail.
Tetapi hal itu hanya berlaku bagi yang belum berpengalaman dan tidak memiliki pengetahuan tentang tradisi tata rias Paes Ageng.
Di era modern seperti sekarang, tata rias Paes Ageng masih menjadi simbol identitas Jawa. Banyak pengantin perempuan menggunakan tata rias Paes Ageng sebagai penghormatan terhadap leluhur dan tradisi Jawa.
Paes Ageng Ngayogyakarta Hadiningrat adalah salah satu warisan budaya yang merupakan tata rias pengantin tradisional mewah dan penuh makna, terutama bagi pengantin wanita.

















