YOGYAKARTA, fornews.co—Sejumlah kelompok teater bermain apik pada malam pertama Parade Teater Linimasa #2 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) di Gedung Convert Hall yang berlangsung tanggal 29-30 Oktober 2019.
Sebagai penutup Parade Teater Linimasa #2, malam ini, Rabu (30/10), Rumah Teater Sastro Mbeling dengan lakon “Cintraka” akan tampil bersama para pemain muda. Sebuah babak paling ditunggu masyarakat pecinta teater di Yogyakarta.
Sebuah kisah pertarungan, kesetiaan dan pengkhianatan, di masa perang pada tahun 1948, ketika Jenderal Sudirman memimpin gerilya melawan serdadu Belanda di kawasan Kediri.
Naskah ditulis oleh Lik Sastro dan disutradarai Brisman HS.


Menurut Tim Produksi Sastro Mbeling, Erwito Wibowo, helatan Parade Linimasa #2 telah memberikan angin segar bagi atmosfir teater di Yogyakarta.
Erwito mengatakan bahwa antusias dan kesetiaan penonton dari kampung-kampung di Yogyakarta pantas diacungi jempol.
“Percaya kalau penontonnya akan setia sampai pertunjukan selesai,” katanya.
Menariknya lakon yang ditampilkan Sastro Mbeling sangat relevan dengan peringatan Hari Pahlawan.
Sastra dan Teater
Sastra dan teater seperti tidak terpisahkan. Keeratannya yang sangat kuat berdampak terhadap kekuatan teater dan sastra di Yogyakarta. Tentu saja mempengaruhi lintas generasi dalam dunia sastra dan teater.
Disinggung Yogyakarta yang sering disemati sebagai barometer sastra dan teater di Indonesia, sastrawan Mustofa W Hasyim mengatakan bahwa untuk menjadi barometer diperlukan jam terbang yang tinggi.
“Mungkin setelah tahun ke lima baru kelihatan geliat teater Yogyakarta,” kata Mustofa, Rabu.
Tentu saja seperti musikalisasi sastra yang sudah memasuki tahun keenam, tambahnya. Parade drama Linimasa yang diselenggarakan TBY akan terus berlanjut pada Linimasa berikutnya.
Pergerakan teater di Yogyakarta perlu dilengkapi dengan berbagai festival teater dan lomba penulisan naskah teater tingkat DIY. “Keduanya bisa berlangsung di Yogyakarta.”
“Tentu festival teater dan lomba penulisan naskah teater perlu ditingkatkan kualitas penyelenggaraannya,” katanya.
Namun begitu, Mustofa berpendapat bahwa sastrawan dan teaterawan dapat difasilitasi secara intensif. Keduanya dapat saling memberikan gagasan dan menyumbangkan kemampuannya, sehingga disiplin keilmuan dari para sastrawan dan teaterawan dapat tercapai.
Mustofa mengingatkan bahwa sastra dan teater memiliki wilayah kerjanya masing-masing: naskah teater masuk wilayah kreatif para sastrawan dan pemanggungannya masuk ranah teaterawan.
“Diperlukan kerendahan hati dan keterbukaan dari keduanya untuk sebuah karya kreatif pementasan.”
Kemudian, hadirnya komunitas sastra lintas generasi dan komunitas teater lintas generasi bisa membuat dinamika sastra dan teater menjadi bermakna dan signifikan dalam pencapaian kuslitatifnya.
“Sebenarnya komunitas sastra termasuk di kampus-kampus sudah sangat terbuka terhadap kemungkinan berteater dan bermusik,” ungkap Mustofa.
Pertunjukan sastra merupakan dunia awal ketika sastra dan teater bertemu, berdialog dan berproses bersama untuk maju dan berkembang bersama.
“Dan ini saya lihat, di Yogyakarta, gejalanya cukup menggembirakan.”
“Sastra adalah ruh dari pertunjukan, dan teater adalah tubuh dari pertunjukan itu sendiri. Makin kuat ruhnya, maka makin kuat pula karakter pertunjukannya,” pungkasnya. (adam)
instagram:
FORNEWS OFFICIAL
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja

















