YOGYAKARTA, fornews.co–Pagi pukul 05.55 WIB gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta.
Suara gemuruh bagaikan ribuan helikopter terjun dari langit.
Guncangan dahsyat bertipe “S” selama 57 detik dirasa lebih dari sejam.
Kepanikan warga Desa memekik takbir menambah suasana berubah mencekam.
Tak lama kemudian suara tangis pecah beberapa saat setelah gempa pertama mereda.
“Saya sedih jika teringat gempa waktu itu,” kenang Purwanto (41), warga Desa Garjoyo, Imogiri, Bantul, DIY.
Ia berlari bersama Istrinya sambil menggendong anaknya semata wayang keluar rumah ke tempat terbuka.
Masih jelas dalam ingatannya, korban bergelimpangan karena tertimbun reruntuhan bangunan rumah.
Namun, pagi itu ia tidak bisa berbuat banyak, meski melihat mayat berserakan.
“Semua orang kocar-kacir,” ujarnya. “Mereka masih mempedulikan keluarganya.”
Malam itu ia tidak mendapat firasat atau pertanda apapun. Sepulang kerja seharian di pabrik Tahu di Ngoto. Ia langsung istirahat.
Ia tak menduga jika paginya terjadi gempa dahsyat mengobrak-abrik seluruh desanya.
“Rumah-rumah rata tanah, saya sempat bingung dan takut,” katanya, Rabu (27/5/2020).
Sudarjo (58), warga Randubelang, Bangunharjo, Sewon, Bantul, DIY, juga merasakan dahsyatnya gempa.
Dari pusat gempa hingga tempat tinggal Sudarjo berjarak sekira 13 kilometer.
“Banyak warga yang mengungsi ke tenda Polri milik Polda DIY,” ujarnya, Rabu.
Kebanyakan pengungsi adalah perempuan dan anak-anak.
Sudarjo merasakan guncangan yang sangat besar. Bahkan ia sempat terjebak di dalam rumah karena pintu tidak bisa dibuka.
Saat Sudarjo berhasil keluar ia melihat debu dan asap tebal dari arah Selatan.
Keluarganya selamat dan bergabung mengungsi dengan warga lain di tenda milik Polda DIY.
Hingga pukul 22.15 WIB, pada hari pertama pasca gempa, Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam di Yogyakarta mencatat 2.986 orang tewas.
Sedangkan puluhan ribu lainnya mengalami luka berat dan ringan. Semua rumah sakit di Yogyakarta penuh pasien.
Sebagian pasien bahkan harus diurusi di luar rumah sakit di halaman dan tempat parkir.
Gempa 27 Mei 2006 mengakibatkan kerugian besar di Kabupaten Bantul.
Pada hari ketiga tanggal 29 Mei 2006, Satkorlak DIY telah mencatat sebanyak 19.593 rumah rusak parah.
Malamnya, pukul 23.00 WIB tercatat korban tewas bertambah menjadi 5.162 orang.
Dampak gempa di Yogyakarta tidak hanya meluluhlantakkan tanah dan bangunan. Namun juga menyisakan cerita pilu. (adam)
















