LUMAJANG, fornews.co – Kelompok pecinta alam dari Kabupaten Lumajang, Banyuwangi, Jember, dan Malang menggelar Peringatan Hari Pohon Sedunia di Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Sabtu (21/11).
Kegiatan bertajuk “Terus Tandur Ojok Mundur” ini sendiri digelar selama dua hari dengan agenda diskusi pelestarian kawasan pesisir dan menanam pohon di lahan milik almarhum Salim Kancil. Seluruh kegiatan tetap memperhatikan protokol kesehatan di tengah pandemi COVID-19.
Koordinator Laskar Hijau Aa Abdullah Al-Kudus menyampaikan, kegiatan Peringatan Hari Pohon Sedunia sengaja digelar di Desa Selok Awar-awar untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa mendiang Salim Kancil dalam usahanya merawat dan menjaga kelestarian alam.
Beberapa organisasi masyarakat seperti Laskar Hijau, Gusdurian, organisasi pecinta alam, serta beberapa pihak lain di Kabupaten Lumajang turut menginisiasi dan mensukseskan kegiatan tersebut, termasuk Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang.
“Kegiatan konservasi ini juga diikuti oleh keluarga almarhum Salim Kancil,” ujarnya dalam keterangan pers, Minggu (22/11).
Hadir dalam kesempatan itu, Koordinator Sahabat Alam Indonesia, Andik Saifudin dan Guru Besar Universitas Brawijaya Malang, Prof. Lukman Hakim.
Andik Saifudin mengapresiasi semangat kalangan pemuda-pemudi Lumajang yang turut serta aktif dalam kegiatan tersebut. Hal itu menurutnya menjadi nilai positif dan langkah baik dalam kegiatan-kegiatan konservasi lingkungan.
Menurut Andik, turun ke lapangan dalam kegiatan konservasi bertujuan untuk mengetahui cerita, masalah, ilmu, serta mendapatkan pengalaman dan jaringan. Sehingga, berangkat dari itulah bisa mengetahui situasi dan kondisi sebenarnya di lapangan untuk bisa memberikan solusi jika seandainya ada suatu masalah.
“Cerita, ilmu, pengalaman dan jaringan itu tidak bisa dititipkan ke orang lain. Harus kita sendiri. Misalnya, cara menyelesaikan konflik seperti apa. Kalau kita tidak pernah terjun ke masyarakat, kita tidak akan tahu caranya,” terangnya.
Senada disampaikan Guru Besar Universitas Brawijaya, Prof. Lukman Hakim, bahwa konservasi adalah manajemen atau pengaturan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sehingga perlu adanya ilmu untuk mengaturnya agar berjalan dengan baik dan memberikan manfaat untuk semuanya.
“Selain ilmu, perlu ada seni dalam mengatur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Akan tetapi, untuk mendapatkan seninya memang harus turun ke lapangan dengan ikut serta dan aktif seperti kegiatan ini,” imbuhnya. (yas)
















