JAKARTA, fornews.co — Pemerintah menegaskan bahwa keterlibatan anak dalam aksi iklim harus menjadi bagian penting dari agenda nasional seiring meningkatnya ancaman krisis iklim terhadap masa depan generasi muda.
Pesan tersebut mengemuka dalam pertunjukan imersif “Aku, Kamu, Kita adalah Bumi” yang diprakarsai Save the Children Indonesia pada Ahad, 23 November.
Di atas panggung anak-anak menyampaikan pengalaman dan gagasan mereka tentang perubahan iklim.
Kemen PPPA menyebut krisis iklim sebagai ancaman serius bagi pemenuhan hak anak.
Temuan riset global Save the Children Born Into the Climate Crisis 2 menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir dekade ini berpotensi menghadapi bencana iklim dengan frekuensi dan intensitas jauh lebih besar, mulai dari gelombang panas hingga kegagalan panen.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menekankan bahwa anak harus dilihat sebagai bagian dari solusi.
“Anak-anak bukan sekadar penerima dampak. Mereka adalah aktor penting dalam aksi iklim,” ujarnya.
Ia mengajak anak-anak untuk melakukan langkah sederhana seperti mengurangi sampah plastik dan menghemat air.
Dari perspektif spiritual, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut merawat bumi sebagai perintah moral dan religius.
Menurut dia, rumah ibadah dapat menjadi pusat edukasi lingkungan melalui gerakan menanam pohon, mengurangi sampah, dan hemat air.
“Merusak alam berarti merusak diri sendiri,” tegasnya.
Menteri PPPA Arifah Fauzi menambahkan bahwa Hari Anak Sedunia menjadi pengingat penting mengenai hak-hak anak, termasuk hak untuk didengar dalam isu krusial seperti perubahan iklim.
“Anak-anak adalah pewaris bumi. Mereka membutuhkan lingkungan yang aman dan memberdayakan agar mampu memimpin Indonesia menuju 2045,” katanya.
Rangkaian peringatan Hari Anak Sedunia berlangsung tiga hari, meliputi dialog tentang keamanan digital, pentas kreativitas, hingga ajakan aksi iklim yang dipimpin langsung oleh anak-anak.
CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, menekankan bahwa krisis iklim “terjadi hari ini”, dan anak-anak sudah merasakan dampaknya.
Riset lembaganya menunjukkan anak perempuan sering menghadapi risiko lebih besar dalam situasi bencana, namun juga memiliki kapasitas adaptasi yang kuat.
Pertunjukan imersif “Aku, Kamu, Kita adalah Bumi” menjadi ruang bagi anak untuk menyampaikan perspektif mereka.
Pertunjukan itu sekaligus bagian dari Kampanye Nasional Aksi Generasi Iklim yang sejak 2022 mendorong kebijakan iklim yang berpusat pada anak.
Acara yang digelar bersama Purwacaraka Music Studio dan Saung Angklung Udjo ini menghadirkan lebih dari 1.000 peserta, tiga sesi pertunjukan, serta stan bazar produk ramah lingkungan.
Kegiatan didukung oleh Lego Foundation, BSI Maslahat, Grab Indonesia, dan Gramedia.

















