MALINAU KOTA, fornews.co – Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) menerima seekor beruang madu (helarctos malayanus) dari Aspuri Usat, warga Desa Tanjung Keranjang, Kecamatan Malinau Kota, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Rabu (3/2/2021).
Beruang madu berusia 1,5 tahun itu sebelumnya dipelihara oleh keluarga Aspuri dan diberi nama “Wang”. Aspuri mengatakan, kecintaan keluarganya terhadap Wang sudah cukup dalam. Namun dari kecintaan itulah akhirnya mendorong mereka untuk menyerahkan Wang kepada Pemerintah secara sukarela agar dia dapat hidup lebih layak dan lestari di hutan.
Balai TN Kayan Mentarang dan BKSDA Kaltim melalui Kepala SKW I Berau BKSDA Kaltim, Denny Mardiono menyampaikan apresiasi terhadap keluarga Apuri Usat dan tak lupa memberikan pemahaman kepada masyarakat agar turut serta melestarikan satwa yang dilindungi.
“Kami mewakili pemerintah sangat berterima kasih atas kesediaan pak Aspuri menyerahkan satwa peliharaannya,” ucapnya dikutip dari laman KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Ia menjelaskan, beruang madu adalah satwa yang dilindungi seperti diatur oleh undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Hayati.
“Dalam aturan itu, bagi siapapun yang melanggar akan dikenakan sanksi pindana,” tegas Denny.
Diketahui, sejak tahun 1994 hingga kini status konservasi beruang madu masuk dalam kategori rentan oleh IUCN. Beruang ini sedang mengalami risiko kepunahan di alam liar. Selain itu, jenis beruang terkecil di dunia ini juga dimasukkan dalam CITIES Apendix I sejak tahun 1979.
Setelah memberi laporan hendak menyerahkan seekor satwa dilindungi jenis Beruang Madu, petugasnya mendatangi kediaman Aspuri di Desa Tanjung Keranjang. Hasil peninjauan kemudian dilaporkan ke BKSDA Kaltim dengan hasil identifikasi bahwa Wang berjenis kelamin jantan dengan bobot kurang lebih 30 kilogram dan dalam kondisi sehat.
Selanjutnya, BKSDA Kaltim melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau menuju lokasi dengan peralatan lengkap termasuk perlengkapan bius, serta kandang transit untuk melakukan evakuasi Wang dari kandang besi, Rabu (3/2/2021).
Tim sempat disambut dengan auman keras dan perilaku agresif Wang yang mulai terlihat tak tenang di dalam kandang besi di pinggir rumah majikannya. Evakuasi pun sempat mengalami kesulitan. Tim bahkan terpaksa menembakkan obat bius hingga enam kali ke arah bokong Wang, mulai dari dosis rendah hingga sedang. Namun tak juga membuat Wang tenang dan terlelap, meski sudah tidak mampu lagi berdiri. Akhirnya tim mencoba metode lain untuk mengevakuasi Wang, yakni dengan bantuan keluarga Aspuri Usat.
Tim BKSDA pun menembakkan satu suntikan bius terakhir kepada Wang untuk menjaga efek bius sebelumnya yang mulai reda. Wang mulai terlihat kehilangan agresifitasnya dan dapat dievakuasi ke kandang transit. Meskipun terlihat ramah kepada majikannya, auman yang diperlihatkan Wang menunjukkan masih adanya naluri buas dan berpotensi berbahaya jika terus dipelihara dan tumbuh di lingkungan masyarakat. (yas)

















