YOGYA, fornews.co—Fotografi sudah menjadi media ekspresi seni, citra estetikanya berdasarkan visi dengan ide-idenya yang mutlak.
Hal itu diungkapkan Alex Luthfie salah satu tim kurator pameran forografi bertajuk “Migration” berlangsung pada 9-18 Februari 2022 di Tembi Rumah Budaya.
“Oleh karena itu seorang seniman fotografi akan dihargai atas kemampuannya menghadirkan nilai-nilai keindahan (estetika) dalam karya seninya,” ujarnya.
Menurut Luthfi, fotografi sebagai alat atau media perekam gambar, fungsi dan kegunaannya sudah semakin luas. Berbagai ide bisa direpresentasikan ke dalam ruang foto dengan cara yang bebas, bahkan keluar dari sopan-santun berfotografi.
“Seniman fotografi di dalam proses berkaryanya cenderung mengikuti perkembangan konsep estetika seni murni,” ungkap pendiri studio seni “Saung Banon Arts” Yogyakarta, Senin.
Dampak dari bersentuhannya itu, sambung Luthfi, ruang kreativitasnya menjadi semakin terbuka dan tidak sebatas pada pendokumentasian momen estetik semata.

Dijelaskan, melalui fotografi manusia bisa menceritakan beragam kisah dari pengalaman indrawinya.
Momen opname atau drama kehidupan di alam semesta, semuanya bisa direkam dengan kecanggihan kamera foto.
Dari hasil rekaman itu, kata Luthfi, akan tercipta gambar artistik yang memiliki narasi visual sehingga menceritakan suatu peristiwa atau kejadian.
Pesatnya perkembangan teknologi, kamera digital tidak hanya memudahkan siapapun untuk merekam setiap peristiwa. Namun, juga berkarya secara kreatif.
Lebih lanjut Luthfi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi fotografi yang didukung oleh beragam software edit fotografi dan peralatan canggih lainnya, membuat seniman fotografi lebih leluasa bertindak secara kreatif untuk keluar dari tradisi penciptaan karya fotografi pada umumnya.
Pameran fotografi internasional bertajuk “Migration” itu digagas oleh tiga seniman SAIKI Photography, yakni M.A. Roziq, Achid Librianto dan Alex Luthfie R.
Ketiga seniman tersebut bekerja sama dengan sejumlah dosen fotografi dari perguruan tinggi di Yogya, Jakarta, Surakarta, Bali, dan Malaysia.
Pameran itu menampilkan 17 seniman fotografi dari lingkungan akademik dan professional.
“Mereka semua adalah para seniman fotografi yang aktif berkarya, bereksperimen dan berani membongkar kemapanan karya fotografi dari kaidah atau definisi yang membelenggunya,” ujar Luthfi.

Sementara itu tim kurator pameran, Irwandi, mengatakan bahwa fotografi yang hanya merekam realita tanpa intensi telah tamat beralih menjadi milik publik.
Selain itu, fotografi tidak lagi menjadi hak istimewa sosial bagi orang-orang tertentu, seperti yang terjadi pada akhir abad ke-20.
“Saat ini banyak yang mengatakan “everyone is photographers”,” ucapnya. Ia pun membenarkan pernyataan tersebut.
“Benar dari sisi bahasa dan fakta.”
Hal itu karena gawai yang disertai teknologi fotografi menjadi penyebab mudahnya diakses secara personal. Akibatnya, mendorong terjadinya disrupsi hampir di segala bidang.
“Imaji diproduksi, diolah dan didistribusi dengan mudah oleh jutaan mungkin miliaran manusia di muka bumi melalui gadget-gadget yang semakin hari semakin pintar. Demikianlah kondisi fotografi di satu sisi, banyak tabir yang telah terbuka.”
Irwandi melihat fotografi seni tidak lagi didominasi oleh para seniman pengukur cahaya, pelukis cahaya, dan pemuja teknis. Namun, kini jauh lebih luas.
Dari seluruh karya yang dihadirkan, hampir tidak ada yang bercorak fotografi tradisional. Sebagian besar memanfaatkan fotografi secara artikulatif, penuh intensi dan melampaui.
“Bahkan melupakan batas-batas konvensi fotografi yang dulu sempat mendominasi,” katanya.
Masih kata Irwandi, wujud foto yang hadir sebagai akumulasi dari proses penciptaan karya menjadi jejak yang tidak terbantahkan.
“Fotografi seni tentu tetap membutuhkan pikiran untuk melahirkan gagasan, dan hati untuk menunjukkan rasa,” pungkasnya.
Pameran fotografi bertajuk “Migration” diikuti oleh Tigor Lubis, Ve Dhanito, Irwandi, Edial Rusli, Arti Wulandari, Aji Susanto Anom, Novan J Andrea, Purwastya Pratmajaya, Adrianus Windujati, Andrialis Abdul Rahman, Nik Ridzuan Nik Yosoff, Nik Nor Nik Azidah Nik Aziz, Mohd Shariful Hafizal Aminuddin, M.A. Roziq, Achid Librianto, Doni Fitri, dan Alex Luthfi. (adam)
















