YOGYAKARTA, fornews.co–Kolektif Kelas Bebas, kelompok seni rupa beranggotakan enam belas orang dari Institut Seni Indonesia (ISI) mengawali pamerannya di Lembaga Indonesia Jerman (LIJ), Prawirotaman, Yogyakarta, pada Jum’at lalu, 26 Oktober 2019.
Kelas Bebas sekaligus Pameran bertajuk “Mimpi Basah” muncul dari sebuah rumah kontrakan di rumah Pepaya, Panggungharjo, Cabeyan, Sewon Bantul, pada empat tahun lalu. Keinginan untuk berpameran memang sudah terencana, kata Warisman dan Munir.

“Mimpi Basah” sebagai tema yang dipilih adalah hasil dari pertapaan keenam belas perupa yang kini masih aktif di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
“Untuk mengetahui “Mimpi Basah” saya harus mendatangi mereka dan mewawancarainya satu-persatu,” kata Andre Tanama, penulis pengantar dalam pameran ini.
Andre mengatakan bahwa “Mimpi Basah” dapat diartikan sebagai perumpaan memasuki masa pendewasaan berkaitan dengan cara berpikir ketika mulai memasuki dunia berkesenian dalam proses berkarya.
Meski begitu, lanjutnya, ada yang menafsirkan mimpi basah sebagai “kenikmatannya”. Sebuah proses berkarya yang lebih penting ketimbang hasilnya.
Menurut dia, tajuk “Mimpi Basah” akan lebih menarik jika dibaca dalam perspektif psikoanalisis. Namun masih perlu mengingat apa yang pernah dikemukakan oleh Dr. Damardjati Supadjar bahwa sebelum kita berkenalan dengan istilah Freudian, yakni libido sexualis, orang-orang tua kita justru telah mendalami Ramayana.
Alasannya, terkait tema pameran ini, karena dalam Ramayana terdapat pendidikan yang jauh lebih lengkap. Tokoh Anoman, misalnya. Kera putih lakon utama dalam Ramayana sesungguhnya mengacu pada sperma, katanya mengutip tulisan Gunawan dalam buku Filsafat Sex.
Disinggung soal munculnya gagasan mimpi basah apakah terinspirasi dari pemahaman keyakinan relijius tertentu, dirinya mengaku tafsirannya lebih banyak mengambil dari cerita rakyat, salah satunya kisah Ramayana.
Namun ia juga tidak lepas dari alasannya yang banyak terdapat dalam Fiqih Islam, misalnya kata junub yang lekat dalam ajaran Islam.
Bisa dipastikan hampir semua orang mengetahui apa itu mimpi basah. Yang menarik, kata Andre, dalam pameran ini setiap perupa punya alasan tersendiri dalam pengalamannya menemui mimpi basah.
Andre berharap perupa pada pameran ini tidak hanya berhenti pada pemaknaan yang tampil di penciptaan karya, namun di dalam kehidupan nyata pemikiran-pemikirannya dapat direalisasi.
Kelas Bebas
Munir yang dikenal sebagai anak patung di ISI, kepada fornews.co mengatakan, persiapan pameran ini terencana empat bulan lalu. Begitu juga Warisman, perupa muda yang masih aktif di Seni Murni ISI, mengatakan hal yang sama seperti Munir.
“Di Kelas Bebas terdapat berbagai disiplin ilmu dan karakter,” ujar Munir, usai pembukaan pameran.
Diakui Munir pameran “Mimpi Basah” atas kerja bareng Kelas Bebas dan LIJ merupakan kali pertama diselenggarakan. Ke depan masih banyak garapan yang akan dipamerkan meski waktunya belum ditentukan.
Kelas Bebas berupaya berbagi kelimuannya kepada publik melalui pameran dan kekaryaannya. Jika belakangan politik semakin tidak terkontrol memanas, bisa jadi Kelas Bebas merupakan salah satu pendinginnya.
“Mimpi Basah bisa jadi klimaks yang tidak menginginkan apa-apa lagi karena sudah terpuaskan,” seloroh Warisman.
Ia tak menampik perihal kata mimpi basah yang dinilai menjurus berbau seks. “Justru setiap lelaki pernah mengalaminya.”
Tidak ada yang melarang setiap orang punya pendapat terhadap tema pameran ini. Namun tidak sedikit pula yang menafsirkan tema pameran “Mimpi Basah” sebagai sebuah proses berkarya.
“Sudah menjadi tradisi bagi mahasiswa Seni Murni ISI berpameran di luar Kampus,” ungkap Andre.
Ini tidak lain agar dalam diri mereka selalu tumbuh kemauan untuk terus berproses melahirkan karya-karya. Mimpi basah sendiri diambil oleh mereka sebagai istilah penggambarkan remaja lelaki yang baru memasuki masa pubertas.
“Mereka beralasan behwa mimpi basah dapat menjadi rangsangan untuk terus berkarya.”
Sewonderland, bukanlah nama sebuah tempat di Eropa, nama itu merupakan sebutan akrab bagi ISI Jogja yang lokasinya berada di Sewon, Bantul, Yogyakarta.
Keenam belas perupa Sewonderland, yakni Ageng Jatmiko, Athallah Jiwa, Atho Illaha, Rifki A., Ananda Deo, Surya Adiwijaya, Munir, Warisman, Dwi Agus PS., Bagus Andreansyah, Adita Satya Dharma, Caraka Paksi, Jalatarang, Ahmad Syofiudin, Gita Juliana, dan Kirana Nir Linggar, nyatanya berhasil melakukan gerakan keseniannya melalui pameran perdana “Mimpi Basah”. (adam)
instagram:
FORNEWS OFFICIAL
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja
















