
BAGI langkah kaki traveler penikmat kopi tiba di Kota Tanjung Pandan, mungkin pertama kali pandangan mata saat tiba dari bandara atau lewat jalan laut, jelas mencari lokasi nongkrong sambil meringankan beban perjalanan.
Nah, Ketika bertanya kepada warga setempat, dimana tempat ngopi di Tanjung Pandan, dominan jawaban mereka mengarah pada Warung Kopi Ake dan Kong Djie coffee. Ternyata lokasi dua warung kopi (warkop) tertua di Pulau Belitung ini berada tidak berjauhan.
Jika Warung Kopi Ake berada di kawasan KV Senang No 57 tak jauh dari Tugu Batu Satam, icon Kota Tanjung Pandan. Sedangkan, Warung Kopi Kong Djie, terletak di pojok jalan Siburik Barat.
Saat berkunjung ke Warung Kopi Ake dan memesan segelas kopi O (kopi panas), ada sedikit citarasa dibanding dengan rasa kopi kebanyakan. Meski dalam keadaan panas, namun ras kopi Ake ini langsung membungkus lidah. Tidak terlalu manis dan rasa pahitnya cukup bersahabat. Selain kopi O, ada juga teh tarik, kopi susu, mie goreng dan makanan ringan lainnya.

Jika melihat kondisi warkop ini, tidak ada yang istimewa. Namun, semua peralatan untuk meracik kopi masih menggunakan peralatan asli, seperti ketel, tempat air, maupun alas meja berupa plat besi. Demikian juga meja dan kursi pengunjung semuanya masih asli. Tapi, warkop ini seusungguhnya memberikan teladan tentang kesetiaan Akiong menjaga dan merawat warisan leluhurnya.
Setelah sedikit menyeruput nikmatnya kopi O tersebut, dilanjutkan dengan berbincang-bincang dengan Hendra wijaya alias Akiong (62) di pemilik warkop. Akiong menuturkan, sebenarnya warung tersebut peninggalan dari kakeknya, yakni Abok. “Awalnya, dulukan hanya warung biasa. Tapi banyak warga yang biasa ngopi di sini selalu menyebut warung kopi Ake. Saat kakek saya Abok masih merintis warung ini, belum ada plang nama. Barulah saat dikelah ayah saya (Ake) dibuat nama. Karena warga terlalu sering dan terbiasa menyebut warung kopi Ake,” tuturnya, kepada fornews.co.
Akiong menceritakan, bahwa dia merupakan generasi ketiga dari Warung Kopi Ake ini. Setelah kakeknya Abok memulai membuka warungnya pada tahun 1915, kemudian dilanjutkan oleh bapaknya Ake. Pada tahun 1970an, barulah usaha warkop ini dikelolah oleh Akiong. Warkop ini sendiri, menggunakan bahan kopi robusta dari Sumsel dan Lampung. “Kami tidak buka cabang, hanya untuk mempertahankan usaha keluarga. Memang, sebelum reformasi memang jadi tempat para pejabat minum kopi, dari semua pihak, mulai dari pejabat, alim ulama dan sebagainya, apalagi saat kedai ini belum di ubah,” katanya.
“Bangunan ini baru tahun 2012 lalu dipugar. Kami masih tetap buka pukul 06.00-24.00WIB. kalau untuk harga segelas kopi O hanya Rp7.000. Hal yang penting mengutamakan kebersihan dan pelayanan tamu, orang juga tidak melihat suku dan etnis,” tukasnya.

Kalau Warung Kopi Ake tidak berniat membuka cabang dan hanya konsisten meneruskan usaha keluarga, berbeda dengan Warung Kopi Kong Djie. Warung mungil yang terletak di pojok jalan Siburik Barat, yang telah berdiri tahun 1943 tidak sendiri. Karena, di beberapa sudut Kota Tanjung Pandan masih ada cabang-cabang Kong Djie. Sama seperti Warung Kopi Ake, pelanggannya dari berbagai kalangan, mulai dari artis, pejabat, tokoh masyarakat, hingga pekerja tambang.
Kini warung kopi tersebut dimiliki Isjon Haidi, yang merupakan generasi ketiga itu tetep eksis melayani para tamu yang berkunjung ke warung yang hanya bisa menampung 20 orang tersebut. Namun, di warkop Kong Djie ini bubuk kopinya direbus dengan bahan bakar arang yang diyakini membuat rasa kopi lebih nikmat. Menikmati secangkir kopi ditempat ini seperti berada dalam suasana ngopi tempo dulu. Terlebih, meja kursinya dari kayu yang sederhana dan ruang agak sesak tanpa pendingin udara. (tul)
















