YOGYAKARTA, fornews.co–Siapa tidak kenal Muhammadiyah dan NU, organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki deretan tokoh penting dalam dunia pendidikan dan perjuangan.
Pada abad ke-18, kedua organisasi Islam tersebut menggiatkan amar ma’ruf nahi munkar juga dalam bentuk pendidikan guna melawan penjajahan dan kebodohan.
Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Kiai Haji Hasyim ‘Asy’ari, dua tokoh besar yang pernah belajar kepada Kiai Haji Saleh Darat, Kiai Haji Cholil Bangkalan, Kiai Dimyati, Syech Ahmad Khatib Al Minangkabauwy, Syech Al Bantany, dan sejumlah ulama di Makkah, Arab Saudi, mengajarkan toleransi, kedamaian, dan semangat persatuan.
Kedua ulama tersebut juga mengajarkan tentang cara bermasyarakat yang baik. Jejak langkah dari dua ulama tersebut berkembang di Indonesia bahkan dunia.
Sejak pagi hingga siang, Rabu (24/7/2019), di Gedung Pusat Muhammadiyah di Jalan Cik Di Tiro, Yogyakarta, sejumlah tokoh dari Muhammadiyah dan NU sepakat melakukan penandatanganan kerja bareng pembuatan film berjudul “Jejak Langkah 2 Ulama” yang bakal digarap oleh MixPro.
Produser film “Jejak Langkah 2 Ulama”, Andika Prabhangkara mengatakan, bahwa film-film yang sebelumnya pernah diproduksi oleh LSBO—sampai hari ini—masih mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat luas.
“Ini merupakan pengenalan terhadap tokoh-tokoh dari Muhammadiyah dan NU yang akan digenerasikan terus-menerus,” ujar Andika kepada fornews.co.
Kalau di Muhammadiyah, lanjut Andika, ada ke-Muhammadiyah-an, dan ini merupakan penganti salah satu pelajaran ke-Muhammadiyah-an.

Ini merupakan film pendidikan yang rencana akan diputar di sekolah-sekolah baik di Muhammadiyah ataupun di pondok-pondok pesantren di Tebu Ireng.
Meski diakui Andika banyak daerah di Yogyakarta yang tidak memiliki bioskop sangat menyambut film-film produksi LSBO, misalnya “Meniti 20 hari” dan “9 Putri”, namun tidak sedikit yang masih belum mengetahui sejarah dua tokoh ulama besar KHA Dahlan dan KH Hasyim ‘Asy’ari.
Film ini sekaligus menjadikan pembentukan karakter bagi generasi selanjutnya terhadap para tokoh pendiri bangsa.
Jauh sebelum film ini mulai digarap, masing-masing organisasi besar di Indonesia: Muhammadiyah dan NU, melakukan riset terhadap KHA Dahlan dan KH Hasyim ‘Asy’ari, di mana keduanya sedang tidak bersamaan.
Namun begitu, Andika menampik jika film ini sebatas film dokumenter, sebab tidak hanya berisi dokumentasi sejarah tentang KHA Dahlan dan KH Hasyim ‘Asy’ari.
“Selain edukasi, apapun yang ditampilkan dalam film ini juga berfungsi sebagai hiburan,” tutup Andika. (adam)
instagram:
FORNEWS OFFICIAL
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja
















