YOGYA, fornewsco–Asosiasi Pematung Indonesia (API) bekerja sama dengan Dinas Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar pameran patung di sepanjang Malioboro.
Pameran patung Jogja Street Sculpture Project (JSSP) #5 bertajuk “Ruwat Gatra Rasa: Redefining Form and Space” yang digelar tanggal 16-28 Oktober 2023 merupakan pameran patung outdoor terbesar di Indonesia.
Kurator JSSP #5, Rain Rosidi, mengatakan karya patung di ruang publik bukan berarti memindahkan karya dalam studio ke jalan. Bukan hanya memindahkan lokasi, tapi juga mempertimbangkan ruang lingkungan untuk bisa menjadi medan ekspresi.
“Ide awal JSSP adalah bagaimana menghubungkan kreativitas pematung dengan kotanya, yakni Yogyakarta,” ujarnya kepada fornews.co, Senin.
“Ini pembelajaran yang berharga.”
JSSP yang merupakan Program dua tahunan secara konsisten digelar sejak 2015. Maka, sambung Rain, JSSP #5 menjadi salah satu cara merayakan Yogyakarta sebagai Warisan Budaya UNESCO.

Masih kata Rain, dipilihnya Malioboro menjadi lokasi JSSP #5 tidak terlepas dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang memiliki segudang nilai luhur.
“Tantangan bagi pematung adalah terkait sumbu filosofi yang merupakan gagasan dan konsep yang akan diberikan,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S, M.A.
Menurut Dian, seniman patung memiliki tanggung jawab memberikan nilai lebih terhadap hajad hidup manusia melalui karya seni.
Kemudian bagaimana manusia hidup dan kembali ke penciptanya. Ide dan gagasan tersebut menjadi sumur ide yang tidak pernah kering.
“Bagaimana pematung memberikan makna dan nilai lebih terkait daur hidup manusia karena itu yang diakui di dunia,” kata Dian dalam sambutan pembukaan Pameran Patung Outdoor di Taman Edukasi Benteng Vredeburg, Senin sore.
Dian berharap Pameran Patung JSSP #5 dapat mengejawantahkan seni patung untuk edukasi masyarakat di Yogyakarta.

Semua lini kehidupan menjadi ide pematung. Mewarnai, mengedukasi masyarakat Yogya dan karena gejalanya sudah terlihat ketika ditetapkan sebagai situs Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia atau world heritage, ” papar Dian.
Pameran patung JSSP #5 melibatkan 22 seniman individu, 5 karya kelompok dan 3 seniman undangan dengan total 30 karya patung outdoor yang dipamerkan.
Sedangkan 3 seniman undangan, yakni Nasirun, Ugo Untoro dan Putu Sutawijaya.
Ambar Pranasmara, Amboro Liring, Ambrosius Edi Priyatno, Basrizal Al Bara, Dedi Maryadi, Dunadi, Harry Susanto, Hedi Hariyanto, Hilman Syafriadi, Isnataini Rahmadillah, Khusna Hardianto, Komroeden Haro, Lindu Prasekti, Lutse Lambert, Nugroho, Pramono Pingunggul, Rame Adi, Rony Lampah, Supar Madiyanto, Triyono, Yulhendri dan Koko Sondaka.
Kemudian 5 karya kelompok di antaranya Tugiman, Riski Dwi dan Hans Arlen (Cahrespon) dan Anusapati dan Slamet Widodo (Sentolo Syndicate)
Sebelumnya, tahun 2019, JSSP #3 pernah menggelar pameran di tempat yang sama dengan mengusung tema “Pasir Bawono Wukir”. Tema ini serupa dengan gelaran Pameran JSSP #5.
Digelarnya pameran patung JSSP #5 ini diharapkan menjadi ikhtiar seniman patung untuk merawat raga serta batin dari kebudayaan.
“Seni patung memiliki kemampuan kuat untuk mencerminkan sebuah ruang, baik secara fisik maupun sosial,” kata Rain.
Karya-karya seni ini, tambahnya, bukanlah objek yang hampa melainkan tanggapan positif terhadap evolusi bentuk dan tatanan ruang. Selain itu sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan sosial, budaya, dan lingkungan.
Dijelaskan, Yogya sebagai kota seni masih memiliki tantangan ke depan untuk menunjukkan ekspresi. Bisa menjadi penanda dari sebuah waktu, sejarah ataupun pihak yang memberikan projek.
Yogya punya potensi itu karena API memiliki anggota yang kebanyakan di Yogya. Sinergi antara pemangku kebijakan, seniman dan pihak lain yang bisa mendukung program ini menjadi penting.
Patung publik di ruang kota punya nilai-nilai sejarah, atraksi, rekreasi, dan edukasi. JSSP kelima menggarap kawasan yang memiliki nilai sejarah, ekonomi, wisata dan pertemuan berbagai identitas.
Hal itu, kata Rain, menjadi tantangan yang berarti bagi pematung karena syarat dengan berbagai kepentingan.
Rain mengutip pesan Alm Eko Prawoto bahwa sebagai pematung, tidak serta merta merubah lanscape tapi bersinergi. Ruwat Gatra Yawa dikelola dengan mempertimbangkan apa yang ada di Malioboro dan diinginkan seniman.
“Semoga JSSP memberikan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Saya optimis acara ini kalau dikelola dengan baik akan menjadi besar. Akan bisa memberikan sumbangsih untuk pembangunan kota budaya kedepannya,” ucap Rain.
Ketua Panitia Pameran Patung JSSP #5, Basrizal Al Bara, menyebut patung publik banyak tantangannya karena dipajang di ruang umum.
Basrizal menduga masyarakat tidak paham patung yang dipamerkan di Malioboro itu adalah sebuah karya.
“Karya dinaikin, dipanjat, disentuh hingga dipeluk. Diraba juga boleh,” selorohnya.
Pameran Patung JSSP #5 yang berlangsung hingga 28 Oktober 2023 terdapat program Bincang Seni, Tour JSSP: Piknik di Kota Sendiri serta Lomba Foto dan Video.
Lomba Foto dan Video JSSP #5 memperebutkan hadiah jutaan rupiah dapat diikuti oleh berbagai elemen masyarakat.
“Informasi detail dapat dicari melalui media sosial JSSP #5,” pungkasnya. (adam)
Copyright © Fornews.co 2023. All rights reserved.
















