GUNUNGKIDUL, fornews.co — Perupa perempuan Indonesia, Astuti Kusumo, kembali memamerkan karya-karya lukisannya yang menakjubkan menggambarkan Gunungkidul yang eksotik wilayah Mataram Kerajaan Yogyakarta.
Pameran tunggal Astuti Kusumo bertajuk “Svarga Bhumi” di Hotel Santika, Gunungkidul, berlangsung tanggal 13 Desember 2022 hingga 12 Januari 2023.
Melalui karya lukisannya Astuti Kusumo membuktikan Gunungkidul yang memiliki potensi keindahan alam yang mampu menarik perhatian dunia.
Seorang kurator dari Galeri Nasional Indonesia menilai lukisan Astuti Kusumo memiliki sukma yang menggetarkan.
Ia mengaku merinding menyaksikan langsung lukisan karya Astuti yang dipamerkan. Bahkan beberapa koleganya terpana setelah melihat Gunungkidul dari karya-karya lukisan Astuti Kusumo.
Kolega kurator dari Galeri Nasional Indonesia itu mengatakan seperti ada roh dan sukma dalam lukisan Astuti Kusumo.
“Ada getaran sukma dari keindahan alam di Wonosari,” kata Kurator Pameran, Sudjud Dartanto, mengapresiasi karya lukisan Astuti Kusumo.
Pandangannya terhadap hubungan kekaryaan dengan alam di Gunungkidul, Sudjud melihat Astuti Kusumo adalah sosok pribadi perempuan Jawa yang menginspirasi.
Astuti Kusumo, sambungnya, bahkan menginspirasi terhadap tatanan alam, semesta dan manusia.
Sudjud menyebut, ekspresi gaya impresionistik Astuti Kusumo sangat terasa dengan komposisi irama, tekstur dan ritme.
Namun, kata Sudjud, tantangan tersulit bagi seniman tidak berhenti pada visualitas dan perupanya, tapi juga menggetarkan.
“Inspirasi alam yang kemudian ditarik dan diekpresikan oleh Astuti Kusumo adalah proses panjang yang sangat serius sehingga memunculkan terpaan cahaya yang luar biasa,” katanya.
Perupa perempuan yang dikenal sebagai pelukis “on the spot” membuat Sudjud tercengang sedemikian rupanya Astuti Kusumo dapat membahasakan alam melalui lukisan.
Bahkan setelah mengetahui sapuan Astuti Kusumo pada kanvas, Sudjud berani bertaruh lanskap di Gunungkidul tidak kalah dengan lanskap di belahan negara lain di dunia seperti Swiss atau negara-negara eropa. “Semacam eropanya di Wonosari.”
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Gunungkidul dapat dikatakan jauh dari pusat pemerintahan negara (Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat red.) sehingga muncul penyebutan “adoh ratu cedak watu”.
“Dekat Ratu berarti mengabdi kepada pemerintahan dan memberikan kontribusi terhadap negara,” kata Yaksa Agus, penulis dalam katalog Pameran “Svarga Bhumi”.
Yaksa menduga kuat Astuti Kusumo telah menyerap kekuatan semangat Gunungkidul melalui karya-karya lukisannya sehingga mampu menggambarkan perubahan-perubahan kehidupan masyarakat modern.
“Orang-orang Gunungkidul membaktikan diri kepada alam semesta dan itu yang ditangkap seorang Astuti Kusumo,” katanya.
Goresan dan brushstroke Astuti Kusumo yang spontan dengan warna-warna yang menyolok, kata Yaksa, telah berhasil melukiskan probematika kehidupan hari ini secara samar.
Memaknai tajuk “Svarga Bhumi” dalam pameran tunggal Astuti Kusumo tak lain adalah penggambaran eksotik Gunungkidul dengan sejuta pesona alam yang menggiurkan.
Gunungkidul sebagai “Svarga Bhumi” (surga bumi) yang digambarkan Astuti Kusumo bukan sekejab terjadi begitu saja seperti halnya kisah Candi Prambanan.
Tanpa disadari Astuti justru selalu menjalani lelaku sebagai orang Jawa dengan memilih waktu yang tepat dan hari baik dalam setiap perjalanan kekaryaannya.
Lelaku itu, kata Yaksa, disebut Wukir Setangkep tertulis dalam primbon Betal Jemur Adam Makna.
Perjalanan Astuti Kusumo menyerap energi Gunungkidul hingga menjadi karya yang memiliki roh dan menggetarkan membutuhkan keberanian dan kekuatan. Tidak serampangan.
“Ternyata ia tidak menyadari itu? Sungguh kebetulan yang sagat baik,” kata Yaksa.
Astuti Kusumo memiliki teknik pengungkapan ekspresi rupa melalui komposisi warna dan garis dengan sensasi terpaan cahaya.
Sebagai kurator, Sudjud juga melihat bentuk dalam lukisan Astuti Kusumo justru menghadirkan sesuatu yang berdeda dari teknik pengungkapan naturalistik dan realistik.
Terdapat pula akurasi yang bergeser menjadi manifestasi atas kepekaan rasa artistik subjek yang mengamati objek.
“Ini menurut saya poin yang sangat luar biasa!” katanya.
Ia berharap karya-karya lukisan Astuti Kusumo yang dipamerkan di Hotel Santika Gunungkidul dapat bermakna tidak hanya bagi perupanya, namun, juga terhadap kosmos untuk alam semesta dan masyarakat Gunugkidul. (adam)
















