JOGJA, fornews.co — Identitas Jogjakarta hari ini bukan lahir dari reklame atau jargon pariwisata, tetapi dari masyarakat yang setia merawat ingatan.
Hotel kerap dipandang hanya sebagai tempat singgah, namun, diam-diam Loman Park Hotel Jogja merealisasikan perawatan ingatan itu.
Di kawasan Gejayan, satu bangunan ikonik berdiri kokoh dikagumi wisatawan, Loman memilih tetap menyatu dengan lingkungan. Keputusan ini bukan kebetulan, tetapi sikap.

Usai syawalan bersama awak media, General Manager Loman Park, Handono S Putro, mengisahkan bagaimana hotel ini memiliki sejarah panjang.
“Kami tidak ingin menjadi bangunan yang kehilangan cerita. Struktur lama itu kami rawat karena di situlah pengalaman yang berlapis bisa dirasakan tamu,” ujarnya kepada fornews.co, Kamis malam,16 April.
Berawal pada tahun 1990-an, hotel ini telah berganti identitas beberapa kali sebelum akhirnya mengusung nama Loman Park pada 28 Oktober 2023.
Kata “Loman” diambil dari bahasa Jawa loma, yang bermakna ketulusan dan kedermawanan sebuah nilai yang ingin dihidupkan.

Di tengah arus modernisasi yang sering mengedepankan efisiensi visual, Loman Park justru mempertahankan arsitektur Jawa klasik dengan langit-langit kayu jati yang disusun detail, bangunan yang tidak merusak langit kota, hingga ruang gamelan yang tetap berada di posisi awalnya.
Di sudut itu, di ruang gamelan, alunan musik tradisional menyambut tamu sebagai pernyataan identitas, bukan sebagai hiburan tambahan.
Handono menegaskan, pendekatan ini bukan romantisme masa lalu.
“Mempertahankan struktur asli adalah bagian dari pelestarian cagar budaya. Tamu tidak hanya menginap, tetapi merasakan suasana yang punya jiwa. Itu sesuatu yang tidak mudah direplikasi oleh bangunan baru,” ujarnya.
Lebih dari arsitektur, dapur hotel juga menjadi ruang penting dalam menjaga narasi budaya.
Sejak awal, area kuliner dirancang terbuka untuk interaksi antara koki dan tamu.
Kini, konsep itu diperkuat dengan sajian Nusantara otentik yang tidak disederhanakan demi selera pada umumnya.
Di sini, makanan tidak diposisikan sebagai pelengkap layanan, namun sebagai medium bercerita tentang Jogja dan Indonesia.
Handono menyebut peran hotel turut menentukan bagaimana sebuah kota dibaca oleh pengunjung.
“Profesionalitas memang penting, tetapi tanpa karakter, sebuah destinasi akan terasa generik,” selorohnya.
Loman Park justru mengambil posisi berbeda, menjadi jembatan antara kenyamanan modern dan kedalaman tradisi.

Komitmen itu juga terlihat pada praktik keberlanjutan yang dijalankan.
Mengacu pada filosofi Mamayu Hayuning Bawana, Loman mengembangkan pengelolaan sampah berbasis 3R, mengurangi penggunaan plastik, serta menghadirkan fasilitas wellness yang tidak terpisah dari kesadaran ekologis.
“Keberlanjutan bagi kami bukan proyek sesaat. Ini cara berpikir. Bagaimana kami beroperasi tanpa meninggalkan beban bagi lingkungan dan tetap memberi ruang bagi masyarakat sekitar untuk tumbuh bersama,” kata Handono.
Di tengah kepadatan kawasan Gejayan, taman luas di pusat hotel menjadi ruang jeda yang semakin langka di kota. Pepohonan tropis, kolam renang dengan desain lama, dan sirkulasi udara alami menghadirkan suasana resor yang tidak dibuat-buat.
Pilihan mempertahankan ruang hijau ini memperlihatkan bahwa kenyamanan tidak harus selalu datang dari kemewahan baru, tetapi bisa dari keberanian menjaga yang sudah ada.
Loman Park Hotel Jogja menunjukkan bahwa identitas kota bukan hanya dirumuskan oleh pemerintah atau industri besar, tetapi juga oleh aktor-aktor yang bersedia merawat detail kecil seperti kayu, suara gamelan, resep lama, dan cara menyambut tamu.
“Di situlah Jogja terus hidup tidak sebagai citra, melainkan pengalaman yang terasa utuh,” tutur Handono.
















