PALEMBANG, fornews.co – Provinsi Sumatra Selatan dalam waktu dekat akan memiliki Bank Gabah. Keberadaan Bank Gabah diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat.
“Penawaran kerja sama ini selaras dengan pikiran saya, karena 80 persen profesi masyarakat di Sumatra Selatan di sektor pertanian. Tambah selaras lagi karena baru diketuk (DPRD) juga BUMD agrobisnis yang kita usulkan. Semoga ini menjadi pintu besar kesuksesan kita mengelola pertanian Sumsel,” ujar Gubernur Sumsel Herman Deru usai rapat bersama pimpinan PT Medco Agro Group dan rombongan, di ruang rapat Gubernur, Selasa (06/10).
Sebagai Gubernur yang sangat konsen dengan pertanian, HD menjelaskan bahwa pengelolaan urusan gabah sampai menjadi makanan yang siap disajikan memang tak bisa dilakukan secara parsial. Karena itu ia sangat menyambut baik penawaran kerja sama tersebut dengan harapan akan ada peningkatan produksi pertanian agar petani tidak menjadi buruh di tanahnya sendiri.
Salah satu kendala para petani yang kerap ditemui HD saat kunjungan kerja adalah soal ukuran padi yang masih belum seragam. Hal ini menurutnya berbeda hasil produksi padi di beberapa negara penghasil padi yang terkenal di kawasan Asia.
“Petani bukan hanya butuh modal tapi yang tak kalah penting adalah pembinaan hingga pemasaran. Tapi kita harus seragamkan dulu (padinya) dan kerja sama ini memang harus dilakukan. Karena saya yakin kesejahteraan masyarakat Sumsel paling mungkin diwujudkan dari sektor pertanian ini,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Penggilingan Padi Indonesia (Perpadi) Soetarto Alimoeso yang didampingi perwakilan Medco Agro Group, Yana Panigoro, mengatakan, penawaran kerja sama untuk membangun Bank Gabah di Sumsel dilatarbelakangi banyak hal. Di antaranya Sumsel telah menjadi salah satu penghasil beras utama (surplus) keempat nasional dan penyedia gabah/beras bagi daerah lain di Indonesia. Kemudian perdagangan gabah ke daerah lain di luar provinsi tidak dibatasi, namun nilai tambah dari hasil industri gabah/beras kurang dinikmati petani dan masyarakat setempat.
Selain itu kata Soetarto, selama ini sebagian hasil gabah basah petani dari sejumlah sentra padi di Sumsel banyak yang dibawa keluar daerah. Akibatnya penggilingan padi kecil dengan segala keterbatasannya tidak mampu atau kesulitan menyerap gabah setempat. Sehingga banyak yang hanya sebagai penyedia jasa giling dan bahkan banyak yang mati suri. Untuk itu, Bank Gabah di Sumsel ini perlu dibangun yang akan berfungsi sebagai penyangga atau penyedia gabah bagi penggilingan padi kecil.
“Selama ini sebagian gabah dari Belitang wisata kemana-mana, Lampung, Banten, hingga Jabar. Akibatnya penggilingan padi yang kecil jadi mati suri karena tidak mampu bersaing modal. Makanya tim kami ingin berperan disini dan Bank Gabah Sumsel perlu dibangun agar berfungsi sebagi penyangga penyedia gabah bagi penggilingan padi kecil. Tentunya bekerjasama dengan BUMD Agrobisnis,” tuturnya. (ije)

















