SEKAYU, fornews.co – Produksi industrial vegetable oil (IVO) sebagai bahan baku Bahan Bakar Nabati (BBN) di Musi Banyuasin ditargetkan pada Oktober 2020. Hal tersebut terungkap pada rapat Pembahasan Desain Bisnis Pengembangan Bahan Bakar Nabati Berbasis Sawit bersama pihak Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui video conference, Kamis (17/09).
“Program ini akan terus jalan, tepat sesuai dengan jadwal yang telah dibuat. Kita berusaha dan berdoa untuk program ini menghadirkan model bisnis industri yang berbasis sawit rakyat,” ujar Bupati Muba Dodi Reza Alex.
Menurut Dodi, keinginan untuk merampungkan Kabupaten Muba sebagai percontohan bagi daerah lain dan produksi CPO demetgum IVO nantinya ditargetkan pada Oktober.
“Goal dari realisasi ini yakni dapat mendekatkan akses petani ke pasar internasional, tidak lagi petani kita sekedar menjual CPO. Tetapi karena potensi yang meningkat kita dorong dan kita punya potensi kebunnya, bisa bekerjasama agar bisa transaksi langsung,” katanya.
Dodi menerangkan, pada pertemuan kali ini Pemkab Muba ingin memastikan bahwa apa yang dikatakan pihak BPDPKS, Muba sebagai pilot project pengembangan BBN dengan penggunaan katalis merah putih sangat cocok ataupun sangat sesuai untuk dilakukan di Muba.
“Bisa dilihat dari profil sawit yang dimiliki Muba, saya ingin menjamin ketersediaan bahan baku sampai pasar. Saya yakin ini, sebelum Muba ditetapkan sebagai pilot project, sudah dianalisa pemerintah pusat oleh BPDPKS. Kalau dilihat dari luas perkebunan sawit tentu sangat menjamin ketersediaan bahan baku,” tuturnya.
“Akan sangat sesuai dengan apa yang diamanatkan Presiden, yang mana pengembangan IVO harus melibatkan dan merangkul petani,” tambahnya.
Dodi menegaskan, jaminan mengenai ketersediaan bahan baku sangat penting. Karena ketersediaan bahan baku adalah prasyarat utama desain pengembangan bisnis ini, dan didapat dari sawit petani rakyat yang diremajakan oleh pemerintah melalui BPDPKS.
“Tentu disini membuat masyarakat dan pemerintah sama-sama bahagia,” ucapnya.
Menurut Dodi, selain memberdayakan petani, Pemkab Muba mengoptimalkan juga produksi dengan membangun pabrik kelapa sawit sendiri, dengan luasan yang baik dan cocok.
“Bertahap kita bangun 2 sampai 3 pabrik, sehingga bisa mensuplai IVO. Kami juga akan ada standalone gasoline dan hemat biaya sehingga bisa mengurangi biaya produksi,” katanya.
Sementara itu, Tim Institut Teknologi Bandung, Prof Subagjo menyebutkan, untuk rencana Pengembangan BBN Berbasis Sawit ditetapkan di Muba memang wajar. Dukungan pemerintah, kondisi perkebunan sawitnya, serta masyarakatnya memang luar biasa.
“Aktivitas dukungan Pemdanya yang tinggi membuat rencana ini makin dipermudah. Ini juga menjadi alasan kuat mengapa Muba dipilih sebagai daerah pilot project,” tukasnya.
Plt Direktur Kemitraan BPDPKS, Muhammad Ferian mengungkapkan bahwa Kabupaten Muba memang sudah sewajarnya menjadi percontohan bagi daerah lain. Daerah yang sudah tepat, baik dari hulu ke hilir begitu juga ketersediaan bahan baku di Kabupaten Muba sudah siap dan tersedia.
“Intinya, Muba sebagai tempat percontohan untuk pengolahan BBN berbasis sawit, bisa diduplikasi bagi daerah lain juga. Terkait dengan akan membangun pabrik kelapa sawit di Muba, kami dari BPDPKS siap membantu penyediaan alat bagi petani, Oktober nanti pemindahan unit demetgum ke Kabupaten Muba akan dilaksanakan, sehingga operasional IVO dapat segera direalisasikan,” pungkasnya. (ije)

















