SEKAYU, fornews.co – Pemkab Musi Banyuasin meluncurkan sistem Aplikasi Lelang Bahan Olahan Karet pertama di Indonesia yang dinamai Sang Bokar dan aplikasi e-STDB (Surat Tanda Daftar Budi Daya).
“Muba begitu luar biasa, bulan lalu resmi mengoperasionalkan pabrik aspal karet dan hari ini melaunching aplikasi digital lelang karet Sang Bokar. Bupatinya sangat peduli terhadap petani rakyat. Ini terobosan inovasi yang hebat dan visioner,” ujar Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian, Dedi Junaedi di sela Peringatan Hari Perkebunan Nasional (Harbunas) ke-63 Kabupaten Musi Banyuasin, di Opproom Pemkab Muba, Kamis (17/12).
Menurut Dedi, peluncuran aplikasi Sang Bokar sangat tepat dilakukan untuk memasarkan olahan karet petani rakyat di Muba agar dapat diserap oleh investor internasional.
“Apalagi saat ini pergeseran dunia digital sangat cepat. Tentu dalam upaya pemasaran produk juga harus diikuti, agar serapan olahan karet petani rakyat di Muba dapat lebih maksimal lagi,” katanya.
Dedi menyampaikan, berbagai upaya visioner yang dilakukan Bupati Muba Dodi Reza Alex ini dilakukan semata demi memaksimalkan serapan karet petani di Muba. Upaya ini juga sebagai laku nyata dan langkah konkret andil memulihkan perekenomian petani ditengah pandemi COVID-19 saat ini.
“Ini aplikasi pertama di Indonesia, saya berharap agar Kepala Daerah lainnya di Indonesia khususnya yang wilayahnya dominan hasil perkebunan karet dapat mencontoh terobosan di Muba demi meningkatkan kesejahteraan petani karet,” harapnya.
Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin menerangkan, aplikasi Sang Bokar dan e-STDB diterapkan bukan untuk gagah-gagahan. Tapi, aplikasi ini akan sangat berguna ke depannya.
“Dengan aplikasi ini maka semakin mudah memasarkan hasil olahan karet dari petani karet di Muba dan dapat diakses seluruh investor dari mancanegara,” tegasnya.
Peraih Penghargaan Anugrah Pratama Perkebunan Indonesia Award dari Menteri Pertanian ini melanjutkan, e-STDB (surat tanda daftar budi daya secara elektronik) manfaatnya disamping untuk memberikan keterangan budi daya kepada pekebun juga sebagai instrumen kemudahan pemutakhiran data dan antisipasi hal-hal yang mungkin terjadi.
“Seperti hilang atau rusak pada e-STDB yang sudah diserahkan ke Pemerintah Desa dan Pekebun,” kata Dodi.
Kepala Daerah Inovatif tahun 2020 ini menambahkan, terbitnya Inpres Nomor 6 tahun 2019 tentang RAN KSB dan Perpres Nomor 44 tahun 2020 tentang Percepatan ISPO yang di mana dalam kedua mandatory tersebut menuntut Pemda untuk menyusun Rencana Aksi mewujudkan Kelapa Sawit Berkelanjutan maka Pemkab Muba juga secara resmi melaunching Komitmen Muba Sustainable Palm Oil Initiative.
“Komitmen MSPOI menyatakan Muba melawan isu negatif mengenai kelapa sawit Indonesia oleh negara-negara Uni Eropa,” jelasnya.
Implementasi yang telah dilakukan dalam mewujudkan MSPOI initiative adalah implementasi PSR. Terlebih saat ini Muba dikenal sebagai daerah pertama di Indonesia melakukan PSR pada tahun 2017 lalu serta menyandang predikat PSR terluas dengan realisasi rekomtek sebanyak 14.920 ha, tumbang chiping 12.238 ha dan tertanam dengan jumlah 12.068 ha.
“Bahkan dari 4.446 PSR tahap pertama yang statusnya belum masuk TM 1, tetapi sudah panen dengan luas 1.781 ha yang menghasilkan TBS dengan RBT di atas 4 kilogram per tandan,” bebernya.
Bupati Muba juga menyampaikan 3 pesan untuk terus dilakukan dan dilanjutkan oleh OPD dan pihak terkait yakni pertama untuk komunitas perkebunan kelapa sawit, karet dan Gambir.
“Yang utama meningkatkan produktivitas yang sudah dilakukan selama ini dengan mereplanting kelapa sawit, dan karet. Dan untuk mendapatkan hasilnya yang lebih bagus kini digunakan digitalisasi. Pekebun dapat mendirikan pabrik CPO ke IVO sendiri, dapat memproduksi sendiri CPO maupun IVO sebagai bahan baku Biohidrokarbon (green diesel, bensin sawit dan avtur),” papar Dodi.
“Kedua, lanjutkan hilirisasi, ini penting karena nilai tambah petani dan pekebun karet dan sawit bisa tambah besar. Ketiga, kita gunakan teknologi untuk tes DNA bibit sawit berkualitas pertama kali di Indonesia. Juga menggunakan teknologi mesin sentrifugal untuk menghasilkan karet lateks. Jadi pengunaan teknologi kedepannya sangatlah penting,” tambah dia.
Terakhir Dodi mengatakan bahwa Muba bisa menjadi ujung tombak diplomasi sawit Indonesia. Caranya, adanya kelembagaan yang kuat dan rencana aksi sustainable keberlanjutan.
Plt Kepala Dinas Perkebunan Muba, Akhmad Toyibir melaporkan kegiatan Hari Perkebunan Nasional ke-63 di tingkat Kabupaten Musi Banyuasin ini diadakan sebagai ajang untuk silaturahmi antar pemerintah, pelaku usaha perkebunan, asosiasi perkebunan dan kelembagaan pekebun serta insan perkebunan lainnya.
“Juga sebagai momentum untuk bersyukur dan mawas diri atas segala keberhasilan yang telah dicapai karena di masa pandemi COVID-19 sektor perkebunan tidak terlalu berpengaruh secara signifikan. Semoga kegiatan peringatan Hari Perkebunan dapat dijadikan rutinitas tahunan,” katanya.
Ia menambahkan, dalam rangkaian Harbunas juga dilakukan pengukuhan kepengurusan asosiasi UPPB Kabupaten Muba yang saat ini memiliki jumlah UPPB yang terbanyak se-Indonesia dengan jumlah UPPB yang sudah teregister sebanyak 92 dari 457 per 10 Desember 2020.
“Hal ini menandakan tingginya tingkat kesadaran para petani karet untuk menghasilkan kualitas BOKAR yang baik dan implementasi dari Permentan 38 tahun 2008 tentang UPPB yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan kualitas produksi dan Nilai Tukar Tambah bagi petani karet di Musi Banyuasin,” tukasnya.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan Pengukuhan Asosiasi UPPB Kabupaten Musi Banyuasin 13 orang dan sekaligus Penyerahan Penghargaan oleh Bupati Musi Banyuasin kepada 40 penerima penghargaan. (ije)
















