JOGJA, fornews.co — Pesta Buku Jogja 2025 resmi dibuka di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Rabu malam, 26 November, menghadirkan ratusan penerbit hingga ribuan judul buku baru.
Acara yang digelar hingga 9 Desember ini menjadi salah satu agenda literasi terbesar di Daerah Istimewa Jogjakarta.
Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY, Wawan Arif Rahman, menyebut masyarakat masih kesulitan untuk mendapatkan buku bacaan secara mudah.

IKAPI DIY bahkan menolak anggapan rendahnya minat baca masyarakat terhadap buku.
Pesta Buku Jogja menjadi momentum penting untuk mendekatkan karya-karya penerbit kepada pembaca sekaligus memperkuat ekosistem perbukuan di Jogja.
“Kalau selama ini kita menganggap minat baca di Indonesia rendah, ya sangat keliru,” selorohnya. “Lebih dari puluhan ribu orang datang ke acara buku setiap tahun di Jogja.”
Acara yang digelar atas kerja sama IKAPI DIY, UGM Press dan Gelangang UGM, ini memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan buku bacaan berkualitas. Bahkan harga terjangkau mulai dari Rp5ribu hingga discount lebih dari 40 persen.

Manajer UGM Press, Dr. I Wayan Mustika, menilai keberadaan pesta buku seperti ini memberikan kemudahan bagi geliat penerbitan akademik dan umum.
Mengetahui tingkat baca masyarakat DIY sangat tinggi pihaknya terus mendukung event pesta buku yang digelar setiap tahun ini.
Dengan adanya event ini pihaknya berharap daya baca di DIY akan semakin bertumbuh.
“Buku-buku akademik, riset, hingga karya populer perlu ruang temu seperti ini agar semakin dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, GIK UGM menjadi lokasi strategis karena langsung menyentuh komunitas akademik dan pembaca umum.
Wayan menambahkan bahwa UGM Press, Gelanggang UGM dan IKAPI DIY, juga menggelar peluncuran buku, bedah buku, workshop penulisan, talkshow serta konsultasi penerbitan bagi dosen dan penulis muda sepanjang acara berlangsung.

Kepala Program Pesta Buku Jogja 2025, Aditya Purnomo, menjelaskan acara tahun ini diikuti lebih dari 100 penerbit mulai dari penerbit kampus, penerbit nasional, hingga penerbit independen.
“Kami berharap Pesta Buku Jogja menjadi ruang yang inklusif. Selain diskon dan promo, kami menghadirkan berbagai acara menarik lainnya,” ujarnya.
Target kami, kata Adit, literasi tidak hanya berhenti di transaksi buku, tetapi tumbuh menjadi gerakan.
Ia menambahkan bahwa panitia menargetkan 20.000 pengunjung selama tujuh hari penyelenggaraan, seiring meningkatnya minat masyarakat pada pameran literasi di Jogja.
Selain pameran buku, Pesta Buku Jogja 2025 menghadirkan program unggulan seperti peluncuran buku dari berbagai penerbit, diskusi bersama penulis nasional dan lokal, workshop penulisan fiksi dan nonfiksi, sudut baca anak dan kelas literasi keluarga, pameran arsip dan buku langka terbitan Jogja.

Ketua IKAPI DIY menegaskan bahwa acara ini akan terus dikembangkan sebagai salah satu ikon literasi Jogja.
“Jogja memiliki ekosistem perbukuan yang kuat. Pesta Buku Jogja adalah wujud kolaborasi penerbit, kampus, dan masyarakat untuk menjaga api literasi tetap menyala,” kata Wawan.
Pesta Buku Jogja 2025 terbuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB di GIK UGM. Acara ini dapat diakses secara gratis.
“Jogja adalah kota pendidikan dan kota buku. Melalui Pesta Buku Jogja 2025, kami ingin memastikan penerbit, penulis, dan pembaca memiliki ruang bertemu yang lebih luas. Ini bukan sekadar pameran buku, tetapi perayaan literasi,” pungkasnya.

















