SEKAYU, fornews.co – Pemerintah Kecamatan Lais bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Pemerintah Desa Purwosari memproduksi pakan ternak dengan teknologi Mososa. Tak hanya di Muba, teknologi ini juga baru pertama kali dikembangkan di Indonesia.
Hal ini bertujuan untuk mengatasi kesulitan pakan ternak yang hemat dan berkualitas. Tak hanya murah dan mudah dibuat sendiri, pakan ternak alternatif ini diklaim mampu bertahan hingga berbulan-bulan bahkan hingga satu tahun. Sehingga peternak tidak lagi khawatir dengan kelangkaan pakan hijauan di kala musim kemarau.
Melalui bimbingan tangan dingin Hary Agus Wibowo akademisi Universitas Sriwijaya, sedikit demi sedikit warga di Kecamatan Lais mulai bisa membuat pakan ternak dengan teknologi Mososa. Di antaranya adalah enam kelompok warga Desa Purwosari, Kecamatan Lais.
Eko warga RT 2 Dusun 6, Desa Purwosari, Kecamatan Lais, Kabupaten Muba, mengucapkan terima kasih atas kegigihan Pemkab Muba melalui Pemerintah Kecamatan Lais, sehingga dirinya dan warga Desa Purwosari kini mampu membuat pakan ternak yang murah dan berkualitas.
“Terima kasih Pak Bupati, melalui Pak Camat Lais, kini kami mampu membuat pakan ternak dengan teknologi Mososa,” ujar Eko, Jumat (11/10).
Menurut Eko, kurang dari satu minggu dirinya dan rekan-rekanya mampu membuat pakan ternak melalui limbah sawit, dicampur dengan karbohidrat (solid sawit), vitamin (jerami), protein (magot), minyak/lemak (CPO) dan mineral serta daun-daunan. Semua dijadikan tepung yang akan dipadatkan menjadi pakan untuk menjadi pelet.
Lebih lanjut Eko menerangkan, bahan yang dikelola adalah wafer dengan bahan berupa jerami, daun kering, sagu sebagai pelekat, EM4, tetes tebu, bubuk kerang, dedak jagung. Fermentasi bahannya EM4, tetes tebu, garam, jerami, selase, dedak dan sedikit jagung dengan proses paling lambat 14 hari. Superwela bahan gula merah atau nira sawit, kerang bubuk, kacang merah, kacang hijau, bubuk jagung, gula pasir, mineral, urea dan selase bahan berupa daun-daunan hijau sesuai dengan kesukaan binatang seperti kambing.
“Malam ini, hasil produksi kami telah diuji coba dengan ternak sapi dan kambing. Alhamdulillah ternak tersebut menyukainya,” jelas Eko.
Terpisah, Kepala Desa Purwosari Mustamil Jali menjelaskan, dalam waktu kurang dari sebulan, sudah berdiri enam kelompok peternak yang masing-masing kelompok terdiri dari 15 Kepala Keluarga. Saat ini masing-masing kelompok telah mendapatkan 10 ekor kambing yang berasal dari bantuan Baznas Muba dan 3 unit mesin pembuatan pakan, yakni mesin pencacah (chopper), mesin pencuci (washing), dan mesin pengering yang dianggarkan melalui dana ADD atau dana APBN tahun 2019.
Kedepan, dengan kerja keras pemerintah dan masyarakat, Tamil berharap dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran khususnya di Desa Purwosari.
“Kita berharap dengan upaya ini dapat meningkatkan penghasilan masyarakat,” jelasnya.
Lebih jauh Tamil menjelaskan, jumlah penduduk Desa Purwosari sebanyak 1.200 KK. Oleh karena itu diharapkan kedepan Pemkab Muba dapat menambah kelompok peternakan lebih banyak lagi.
“Insyaallah tingkat kemiskinan di Kecamatan Lais akan berkurang. Harapan kedepan Desa Purwosari menjadi ikon percontohan di bidang pertanian termasuk pembuatan pakan ternak,” pungkasnya.
Sementara itu, Camat Lais Deni Sukmana mengatakan, hal ini salah satu program pengentasan kemiskinan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi Mososa, sehingga selain hewan ternak mendapatkan proses penggemukan dengan lebih murah, peternak juga dapat membuat pakan secara mudah dan alami.
Menurutnya, pusat pelayanan inkubator bisnis di Kecamatan Lais salah satu fungsinya yakni Pendampingan, Pembinaan dan Pelatihan yang berkesinambungan mengacu dengan Perpres No. 27 tahun 2019 tentang pengembangan inkubator wirausaha merupakan payung hukum kebijakan nasional dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan inkubator wirausaha.
Lebih lanjut Deni mengatakan, pihaknya berkonsentrasi membantu masyarakat yang masuk dalam basis data terpadu, karena Kecamatan Lais termasuk kategori masyarakat tertinggi tingkat kemiskinan di Kabupaten Muba.
“Kita akan mencoba meminimalisir angka kemiskinan secara terpadu dan bersama-sama,” tukasnya. (ije)
















