SEKAYU, fornews.co – Pondok Pesantren (Ponpes) Islam Terpadu (IT) Salamun Aitam Islamic Idol di Kecamatan Sekayu, Kabupaten Muba, memasuki tahun ajaran ke-dua setelah resmi dibuka pada Juni 2018. Ponpes yang dibangun di atas lahan seluas 6 hektar ini, diperuntukan khusus bagi anak yatim piatu dan keluarga yang tidak mampu (duafa). Para peserta didik tidak akan dipungut biaya sepeser pun.
“Semua biaya kita tanggung. Selama mondok, semua biaya kebutuhan hidup akan ditanggung Pemkab Muba. Ini merupakan bagian dan salah satu pelaksanaan visi-misi Membangun Umat Berbasis Agama,” ungkap Dodi Reza Alex di sela Halalbihalal bersama Anak Yatim dan Duafa serta Peresmian Gedung dan Murid Ponpes IT Salamun Aitam Islamic Idol, beberapa waktu lalu.
Dodi Reza yang juga duduk sebagai Dewan Pembina GP Ansor Sumsel ini menyebutkan, bahwa program pembangunan Ponpes IT Salamun Aitam di Kecamatan Sekayu ini bertujuan untuk memenuhi pembinaan umat di kawasan Muba Barat. Selama ini, kata Dodi, pembangunan pondok pesantren sudah menyebar di wilayah Muba lainnya.
“Selain itu, perlu lebih memperbanyak keberadaan tempat pendidikan berbasis Islam sehingga ilmu agama anak-anak di Kabupaten Muba semakin lebih baik,” tuturnya.
Dodi menjelaskan, Ponpes sementara ini difokuskan pada jenjang MTs dan untuk tahap pertama baru menerim santri putra. Pada tahun ajaran 2018 lalu dibuka kesempatan untuk 240 siswa secara bertahap. Sedangkan tahun 2019 telah dialokasikan 60 tempat bagi santri baru dari seluruh wilayah Kabupaten Muba.
Adapun program kegiatan pagi yang dilaksanakan sebagaimana peserta didik SMP IT di bawah binaan Dikdikbud Muba, kemudian program sore dan malam dilaksanakan kegiatan pesantren atau pembinaan keagamaan.
“Ponpes Salamun Aitam ini ponpes pertama di Provinsi Sumsel yang mengratiskan semua tanpa terkecuali, mulai dari biaya sekolah, sarana dan prasarana guru, pakaian, makanan. Tempat belajar mengajar anak-anak yatim dan duafa di Ponpes Salamun Aitam ini kita buat senyaman mungkin. Pesan saya agar mereka, anak-anak kita yang selama ini hidup sebagai yatim piatu dan duafa dapat dibina dengan baik, fasilitas jangan dikurangi, berikan gizi serta pakaian terbaik bagi para santri,” tegas Dodi
“Santri yang berminat untuk menjadi dokter nantinya setelah tamat akan mendapatkan prioritas untuk menerima program SJD,” imbuhnya.
Eksistensi ponpes ini juga mendapat sorotan positif dari sejumlah tokoh publik di Sumsel. Di antaranya, Ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Provinsi Sumsel Abdullah Idi. Menurutnya, program ponpes yang diperuntuhkan bagi anak yatim piatu dan fakir miskin sangat baik dan bermanfaat. Sebab, selain pendidikan agama juga diberikan pembinaan ekonomi kemandirian.
“Itu terobosan terbaik. Kita apresiasi sekali dan dukung,” kata Direktur Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang periode 2012-2016 itu.
Terpisah, Ketua Badan Amal Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Sumsel Najib Haitami turut mengapresiasi langkah Pemkab Muba ini. Dikatakan, inu satu hal yang luar biasa dan mungkin pertama kali pemerintah kabupaten di Sumsel yang membangun ponpes bagi anak-anak yatim piatu dan duafa.
“Kita apresiasi ponpes khusus anak yatim piatu dan duafa. Jadi mereka diberikan pendidikan yang layak baik di bidang agama maupun umum,” tuturnya.
Dia juga menambahkan, Kabupaten Muba sendiri salah satu kabupaten yang telah menerapkan perda zakat. “Itulah salah satu daerah yang memang peduli dengan keagamaan. Mengingat zakat merupakan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT,” tukasnya.(bas)
















