PALEMBANG, fornews.co – Keberadaan venue bertaraf internasional di kawasan Jakabaring Sport City (JSC) harus diiringi dengan peningkatan prestasi atlet Sumatra Selatan.
Hal itu disampaikan Ketua Umum KONI Sumsel H Alex Noerdin pada 120 peserta Rakor Litbang KONI Sumsel di Hotel Santika, Palembang, Kamis (06/12). Menurut Alex, mencetak atlet berprestasi tidak hanya soal berlatih dan bertanding, tapi juga harus menerapkan sport science.
“Olahraga sekarang tidak bisa berjalan seperti biasa saja. Sekarang sudah harus memanfaatkan iptek, dalam hal ini sport science,” ucapnya.
Alex mencontohkan, postur tubuh atlet pada cabor tertentu pastinya bakal sangat menentukan. Salah satunya cabor voli indoor ataupun voli pantai. Penerapan sport science pastinya akan sangat membantu untuk dapat mencetak atlet dengan postur tubuh lebih tinggi. Dimana atlet yang memiliki postur tubuh tinggi atau besar, biasanya punya keuntungan lainnya seperti rongga paru yang lebih besar.
“VO2 max juga pasti lebih baik, itu yang dibicarakan dan dibahas dalam rakor ini. Jadi dari Rakor Litbang ini, dibahas secara menyeluruh bagaimana memanfaatkan sport science untuk melahirkan atlet ataupun membantu meningkatkan kemampuan atlet,” ucapnya.
Alex menyebutkan, atlet di Sumsel punya keunggulan soal fasilitas dibandingkan dengan daerah lain. Sumsel punya setidaknya 18 venue bertaraf internasional yang telah teruji dengan berbagai event.
“Ada 18 venue bertaraf internasional, terbaik di Indonesia, Asia bahkan di dunia, jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” katanya.
Ditegaskan Alex, Sumsel sejak awal memang memiliki rencana besar dalam bidang olahraga. Sumsel ingin menjadi provinsi yang kuat dan dikenal dunia dalam bidang olahraga. Mulai dari perhelatan PON, SEA Games hingga Asian Games sukses dihelat disini.
“Politeknik Olahraga di kawasan JSC juga menjadi salah satu upaya kita mengembangkan olahraga di Sumsel,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil II Ketua Bidang Litbang KONI Pusat Johansyah Lubis menyampaikan, Litbang punya peranan yang sangat besar bagi prestasi atlet di level Nasional ataupun daerah.
“Litbang bisa memberikan masukan bagaimana mencari atlet dengan instrumen tertentu. Litbang KONI pun bisa membantu dengan sport science untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan atlet,” jelasnya.
Ditambahkannya, Litbang KONI juga punya ilmu bagaimana sprint 20 meter bisa menggambarkan serabut otot putih dan serabut otot merah dari atlet. Atlet yang mempunyai serabut otot putih gerakannya cepat dan lincah tetapi gampang lelah dan sedikit oksigen, makanya atlet lari maraton semuanya berjenis serabut otot merah, karena mereka sanggup berlari dengan waktu yang lama karena daya tahan ototnya bagus. Tetapi atlet maraton kalau di suruh lari sprint akan kesulitan.
“Pengetahuan seperti ini yang harus disampaikan ke Litbang KONI di daerah,” katanya.
Ketua Panitia Rakor Litbang KONI Sumsel, Taufik Arif menambahkan, kegiatan ini diikuti 120 peserta terdiri dari 20 pelatih yang tergabung PON 2020, 53 peserta dari Pengprov Cabor, utusan KONI kabupaten/kota dan 5 orang dari akademisi.
“Dalam Rakor Litbang, kita punya tiga pembahasan. Pertama, soal prestasi atlet yang menurun, regulasi penggunaan fasilitas di Jakabaring Sport City (JSC) dan terakhir soal penerapan sport science bagi atlet Sumsel,” terangnya. (ije/ril)

















